PAGI itu, kabar duka datang dari RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Pada pukul 06.58 WIB, Tri Sutrisno mengembuskan napas terakhirnya. Kepergiannya menutup satu bab penting dalam sejarah panjang militer dan politik Indonesia—sebuah perjalanan sunyi seorang prajurit yang melangkah hingga ke kursi Wakil Presiden Republik Indonesia.
Lahir di Surabaya, Jawa Timur, 15 November 1935, Tri Sutrisno tumbuh dalam atmosfer Indonesia yang baru merdeka. Ia memilih jalan pengabdian melalui militer. Tahun 1956, ia diterima sebagai taruna Akademi Teknik Angkatan Darat (ATECHAD), awal dari karier panjang yang membentuknya sebagai prajurit teknis sekaligus organisatoris.
Namanya mulai dekat dengan lingkar kekuasaan ketika terlibat dalam operasi pembebasan Irian Barat pada 1962. Di sanalah ia mengenal sosok Soeharto, hubungan yang kelak berlanjut dalam dinamika politik nasional. Pada 1974, ia dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto—posisi strategis yang tak hanya menuntut loyalitas, tetapi juga ketajaman membaca situasi negara.
Kariernya menanjak cepat. Agustus 1985, Tri Sutrisno menyandang pangkat Letnan Jenderal TNI sekaligus menjabat Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, mendampingi Jenderal TNI Rudini. Hanya berselang sepuluh bulan, Juli 1986, ia dipercaya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad). Di titik ini, namanya kokoh sebagai salah satu perwira paling berpengaruh di tubuh TNI AD.
Namun takdir membawanya melampaui barak dan markas militer. Melalui Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat tahun 1993, Tri Sutrisno terpilih menjadi Wakil Presiden RI mendampingi Soeharto untuk periode 1993–1998. Ia menjadi Wakil Presiden ke-6 RI—sebuah posisi yang menempatkannya di pusaran transisi besar menjelang runtuhnya Orde Baru.
Masa jabatannya berakhir pada 1998, ketika gelombang reformasi mengguncang negeri. Dalam Sidang Umum MPR tahun itu, tongkat estafet wakil presiden beralih kepada B. J. Habibie. Tri Sutrisno pun perlahan kembali ke ruang yang lebih senyap, menjauh dari sorotan politik praktis.
Kini, jenazahnya dimandikan di rumah duka RSPAD sebelum dibawa ke kediaman di Jalan Purwakarta No. 6, Menteng, Jakarta Pusat, untuk disemayamkan. Di sana, keluarga, kolega, dan bangsa ini memberi penghormatan terakhir.
Tri Sutrisno bukanlah figur yang gemar tampil mencolok. Ia dikenal sebagai perwira yang bekerja dalam ketenangan, dengan disiplin khas militer dan kesetiaan pada garis komando. Dari Surabaya hingga Istana Wakil Presiden, perjalanan hidupnya adalah potret tentang bagaimana seorang prajurit meniti jalan sejarah—kadang di depan layar, lebih sering di baliknya.
akan mencatatnya sebagai bagian dari generasi militer yang membentuk wajah Indonesia pada era Orde Baru. Dan pagi itu di RSPAD, satu lagi saksi zaman berpulang, meninggalkan jejak yang tak sepenuhnya bisa dihapus waktu.





