Daerah

Konflik Timur Tengah Picu Penundaan, Jamaah Umrah Transit Tertahan

×

Konflik Timur Tengah Picu Penundaan, Jamaah Umrah Transit Tertahan

Sebarkan artikel ini
Direktur Utama Sanema Tour Karawang,Rafiudin Firdaus
Direktur Utama Sanema Tour Karawang,Rafiudin Firdaus

KARAWANG – Memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah berdampak langsung terhadap jalur penerbangan internasional, termasuk kepulangan jamaah umrah asal Indonesia. Sejumlah jamaah dilaporkan mengalami penundaan akibat penyesuaian rute dan regulasi penerbangan maskapai transit.

Anggota Kebersamaan Pengusaha Travel Haji dan Umrah (Bershatu) sekaligus Direktur Utama Sanema Tour Karawang, Rafiudin Firdaus, mengatakan dampak paling terasa dialami jamaah yang menggunakan maskapai dengan sistem transit seperti Qatar Airways, Etihad Airways, maupun penerbangan yang singgah di Oman dan Dubai.

“Pasti sangat berdampak, karena ini berpengaruh terhadap jalur penerbangan internasional. Terutama bagi jamaah yang menggunakan maskapai transit seperti Qatar, Oman, maupun Etihad,” ujar Rafiudin, Rabu (4/3/2025).

Menurutnya, sistem transit mengharuskan jamaah berpindah pesawat di negara tertentu sebelum melanjutkan penerbangan menuju Madinah atau Jeddah. Skema inilah yang kini terdampak akibat dinamika geopolitik di kawasan.

“Kalau transit harus pindah pesawat dulu, misalnya di Oman, Qatar, atau Abu Dhabi, baru lanjut ke Saudi. Nah, yang seperti ini terdampak kepulangannya,” jelasnya.

Sebaliknya, jamaah yang menggunakan penerbangan langsung (direct flight) seperti Saudia, Garuda Indonesia, dan Lion Air hingga kini dilaporkan masih berjalan normal tanpa penundaan berarti.

“Alhamdulillah untuk yang direct seperti Saudia dan Garuda, sampai saat ini masih normal,” katanya.

Berdasarkan informasi dari Kementerian Haji Arab Saudi, sekitar 52 ribu jamaah Indonesia disebut masih berada di Arab Saudi hingga akhir Ramadan. Pihak asosiasi travel saat ini masih melakukan pendataan jumlah jamaah yang tertahan maupun yang akan diberangkatkan dalam waktu dekat.

Penundaan tersebut tak hanya berdampak pada jadwal kepulangan, tetapi juga menekan operasional biro perjalanan. Biaya tambahan harus dikeluarkan untuk akomodasi dan konsumsi jamaah yang belum bisa kembali ke Tanah Air.

“Kalau jamaah belum bisa pulang, tentu kita harus inapkan lagi di hotel, berikan makan, dan itu ada biaya operasional tambahan. Ini pasti berimbas ke cash flow travel,” ungkap Rafiudin.

Selain beban finansial, tekanan psikologis juga dirasakan penyelenggara. Pihak travel terus menerima pertanyaan dari keluarga jamaah yang menunggu kepastian kepulangan.

“Keluarga pasti terus bertanya kapan bisa pulang. Itu jadi beban tersendiri bagi kami,” tambahnya.

Saat ini sebagian jamaah yang tertahan masih berada di Jeddah sambil menunggu kepastian jadwal terbaru dari maskapai. Pihak travel juga tengah menyiapkan langkah mitigasi, termasuk opsi penerbangan tambahan atau charter flight apabila situasi belum kembali normal.

“Kami siapkan alternatif, termasuk kemungkinan charter flight jika dibutuhkan,” pungkasnya.

Penyelenggara berharap situasi di Timur Tengah segera kondusif agar seluruh jamaah dapat kembali ke Tanah Air dengan aman dan tepat waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *