PARIS – Presiden Emmanuel Macron memperingatkan konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi berlangsung cukup lama dengan fase pertempuran intens dalam beberapa hari hingga beberapa minggu ke depan.
Peringatan itu disampaikan Macron di tengah meningkatnya eskalasi militer di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran dunia terhadap meluasnya konflik regional.
Sebagai langkah antisipasi, Prancis menggerakkan kekuatan angkatan lautnya menuju Laut Mediterania untuk memperkuat misi pertahanan sekaligus menjaga stabilitas kawasan.
“Saya tidak melihat ada tanda-tanda bahwa perang ini akan berakhir dalam beberapa hari ke depan. Konflik ini bisa berlangsung dalam fase intens selama beberapa hari bahkan beberapa minggu,” ujar Macron.
Menurutnya, durasi konflik akan sangat bergantung pada tujuan akhir yang ingin dicapai masing-masing pihak.
Macron menilai perubahan mendasar dalam sistem politik suatu negara tidak mungkin dicapai hanya melalui serangan udara. Namun jika target operasi militer hanya untuk melumpuhkan kemampuan balistik dan kekuatan maritim Iran, hal itu secara teoritis bisa terjadi dalam waktu relatif lebih singkat.
Meski begitu, ia mengingatkan adanya risiko eskalasi yang semakin nyata, baik secara militer maupun geografis.
Beberapa hari terakhir, kata Macron, sejumlah infrastruktur penting di kawasan konflik dilaporkan hancur, termasuk fasilitas desalinasi air serta instalasi sumber daya hidrokarbon.
“Kondisi ini menunjukkan situasi masih sangat fluktuatif dan rapuh,” katanya.
Selain memperkuat misi pertahanan, Prancis juga mendorong koordinasi internasional di bidang ekonomi guna mengantisipasi dampak konflik terhadap pasar energi global.
Macron menyebut negara-negara anggota G7 memiliki cadangan energi strategis yang dapat digunakan untuk menstabilkan pasokan minyak dunia jika ketegangan semakin meningkat.
Ia menambahkan langkah tersebut harus dilakukan secara terkoordinasi dengan data objektif dari International Energy Agency atau Badan Energi Internasional.
“Cadangan strategis itu memang disiapkan untuk menghadapi situasi krisis seperti ini,” ujar Macron.
Langkah Prancis tersebut menjadi sinyal bahwa negara-negara Barat mulai bersiap menghadapi kemungkinan konflik berkepanjangan yang tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, tetapi juga stabilitas energi dan ekonomi global.








