JAKARTA – Langkah Prabowo Subianto melanjutkan lawatan dari Rusia ke Prancis dinilai sebagai strategi menjaga keseimbangan politik luar negeri Indonesia di tengah dinamika global.
Pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Triaspol, Agung Baskoro menilai kunjungan tersebut bukan tanpa alasan. Menurutnya, Presiden Prabowo sedang memainkan politik keseimbangan antara kekuatan Timur dan Barat.
“Setelah ke Rusia, kemudian ke sekutu Barat seperti Prancis. Ini bagian dari politik luar negeri yang saling melengkapi,” ujar Agung.
Ia menjelaskan, Rusia dikenal memiliki kekuatan di sektor energi, sementara Prancis unggul dalam teknologi militer. Kombinasi keduanya dinilai strategis untuk memenuhi kepentingan nasional Indonesia.
Menurut Agung, langkah ini juga menunjukkan upaya Indonesia untuk tidak terjebak pada satu blok kekuatan global.
“Presiden ingin mengakomodasi semua kepentingan blok dunia, agar Indonesia dilihat sebagai alternatif dan mitra strategis,” jelasnya.
Selain itu, kunjungan ke Prancis juga berkaitan dengan upaya diversifikasi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Indonesia, kata Agung, tidak boleh bergantung pada satu atau dua negara saja.
“Diversifikasi penting agar kita tidak rentan terhadap sanksi. Kalau satu jalur terganggu, yang lain tetap berjalan,” tegasnya.
Ia menambahkan, kerja sama dengan Prancis membuka peluang transfer teknologi militer, peningkatan kapasitas industri pertahanan, hingga penguatan tiga matra—darat, laut, dan udara.
Langkah tersebut juga dinilai berdampak pada posisi tawar Indonesia di tingkat global. Dalam situasi dunia yang penuh ketidakpastian, Indonesia mulai dipandang sebagai kekuatan “middle power” yang diperhitungkan.
“Ini memperkuat persepsi bahwa Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo adalah strong leader dari Asia yang bisa jadi bagian solusi global,” ujarnya.
Agung juga menepis anggapan bahwa kunjungan luar negeri Presiden sekadar seremoni. Ia menilai ada hasil konkret, mulai dari kerja sama energi hingga penguatan pertahanan.
Menurutnya, diplomasi aktif seperti ini justru penting agar Indonesia tetap relevan dalam percaturan global.
“Kalau Presiden hanya di dalam negeri, kita bisa tertinggal. Justru dengan aktif di forum internasional, posisi tawar Indonesia semakin kuat,” pungkasnya.








