JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia bersiap menggelar sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah, Kamis (19/3/2026).
Berdasarkan pantauan di Auditorium HM Rasjidi, sejumlah undangan mulai berdatangan. Para ahli falakiyah juga telah hadir dan bersiap mengikuti rangkaian kegiatan penentuan awal Idulfitri.
Sebelum sidang isbat, agenda diawali dengan seminar posisi hilal yang dijadwalkan pukul 16.30 WIB. Seminar ini melibatkan para pakar dari berbagai disiplin, mulai dari astronomi, rukyatul hilal, hingga perwakilan organisasi Islam.
Dalam seminar tersebut akan dipaparkan secara ilmiah terkait posisi hilal, termasuk sudut elongasi dan potensi keterlihatan bulan sabit di berbagai wilayah Indonesia.
Sebanyak 177 titik pemantauan hilal disiapkan pemerintah, mulai dari Aceh hingga Papua. Pengamatan ini mengacu pada kriteria baru MABIMS, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat di atas ufuk dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Sidang isbat sendiri akan digelar pukul 18.00 WIB secara tertutup dan dipimpin langsung Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Sejumlah pihak turut dilibatkan dalam sidang tersebut, di antaranya perwakilan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, serta Majelis Ulama Indonesia.
Hasil sidang isbat akan diumumkan melalui konferensi pers sekitar pukul 19.25 WIB sebagai penentu resmi Hari Raya Idulfitri bagi umat Muslim di Indonesia.
Pelaksanaan sidang isbat ini juga merujuk pada Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 yang menegaskan peran pemerintah dalam menetapkan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, sekaligus menjembatani perbedaan metode penentuan di kalangan umat Islam.




