BANDUNG – Banjir akibat luapan Sungai Cisunggalah kian mengkhawatirkan. Penyempitan badan sungai dan menjamurnya bangunan liar menjadi biang utama bencana yang terus berulang di wilayah Solokanjeruk dan Majalaya.
Bandung Dadang Supriatna langsung turun tangan. Ia memimpin rapat koordinasi forum pentahelix di Aula Kecamatan Solokanjeruk, Sabtu (18/4/2026), sebagai langkah konkret mempercepat penanganan banjir.
Dalam forum tersebut, pemerintah daerah menggandeng berbagai pihak, mulai dari OPD, aparat kewilayahan, kepala desa, hingga puluhan perusahaan. Hasilnya, dana spontanitas sebesar Rp150 juta langsung terkumpul untuk penanganan awal.
Namun angka itu masih jauh dari kebutuhan. Untuk penanganan menyeluruh, proyek ini membutuhkan sekitar Rp2 miliar untuk pembangunan dan pembongkaran jembatan, serta Rp10 miliar untuk pembangunan tembok penahan tanah (TPT) sepanjang 5 kilometer.
KDS, sapaan akrab Dadang Supriatna, menegaskan persoalan utama banjir Cisunggalah adalah menyempitnya badan sungai. Dari lebar ideal 8 meter, kini tersisa hanya 3 hingga 4 meter akibat bangunan warga.
“Ini yang menyebabkan aliran air tersumbat dan meluap ke permukiman,” tegasnya.
Pemerintah pun tak lagi memberi toleransi. Satgas telah diterjunkan untuk melakukan penertiban bangunan yang berdiri di badan sungai. Tahapan dimulai dari peringatan hingga pembongkaran paksa.
“Tidak ada kompensasi. Ini pengembalian fungsi sungai,” tandas KDS.
Langkah ini disebut sebagai kunci untuk mengembalikan kapasitas aliran air agar banjir tidak terus berulang setiap musim hujan.
Selain penertiban, pemerintah juga menyiapkan langkah teknis lain seperti normalisasi sungai dan pembangunan embung di sejumlah titik rawan banjir, termasuk di Rancaekek dan Bojongsoang.
KDS mengklaim pendekatan pentahelix sudah terbukti efektif dalam penanganan banjir di wilayah lain, seperti Rancaekek, Cicalengka, dan Cikancung.
“Dengan kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha, saya optimistis banjir Cisunggalah bisa ditangani,” ujarnya.
Meski demikian, tantangan besar masih membayangi. Tanpa kesadaran kolektif untuk tidak membangun di sempadan sungai, ancaman banjir akan terus menghantui kawasan tersebut.








