DUBAI — Sebuah fakta mengejutkan tersembunyi di balik kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran: dana investasi swasta senilai *300 miliar dolar AS* atau sekitar Rp4.800 triliun telah dimasukkan ke dalam kerangka perjanjian kedua negara — dan lebih dari separuhnya sudah dikomitmenkan oleh para investor, demikian diungkapkan sumber yang memiliki pengetahuan langsung kepada Reuters, Senin (16/6/2026).
Dana raksasa ini dirancang sebagai *insentif ekonomi* bagi kedua belah pihak agar mau menuntaskan perjanjian final untuk mengakhiri perang yang meletus sejak pasukan AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026.
Sumber menegaskan dana tersebut bukan program rekonstruksi atau reparasi perang. Seluruhnya merupakan kendaraan investasi swasta murni — tanpa uang pemerintah maupun hibah. Perusahaan dari Korea Selatan, Jepang, Singapura, Malaysia, dan Amerika Serikat disebut telah membuat komitmen, meski daftar lengkapnya belum diungkap.
Gedung Putih merujuk pada pernyataan Wakil Presiden JD Vance di CBS yang menegaskan Iran baru bisa mengakses dana tersebut *jika mematuhi seluruh syarat* — termasuk membongkar program nuklir, menghilangkan stok uranium yang diperkaya, dan menerima rezim inspeksi ketat.
Nota Kesepahaman (MOU) berdurasi 60 hari ini bersifat kerangka kerja, bukan perjanjian final. Negosiator kedua pihak akan bekerja paralel mencakup tiga isu utama: nuklir, sanksi, dan keamanan regional termasuk situasi Lebanon dan Selat Hormuz.
Dokumen 14 poin MOU yang diperoleh Al Arabiya mencantumkan komitmen membuat “rencana komprehensif bagi rehabilitasi dan pembangunan ekonomi Iran dengan memastikan pembiayaan setidaknya 300 miliar dolar.”
Iran menegaskan MOU memuat klausul eksplisit penghentian operasi militer di semua front termasuk Lebanon, serta mekanisme penanganan pelanggaran Israel. Penandatanganan MOU dijadwalkan berlangsung . (Sumber : Al Arabiya, Jumat (19/6/2026)





