TASIKMALAYA – Ratusan kepala berkerudung duduk rapat dalam sebuah halaman sederhana di Kampung Ciherang Kidul, Kota Tasikmalaya. Atap terpal biru. Dinding cat hijau pudar. Tidak ada panggung mewah. Tidak ada dekorasi mahal. Yang ada hanya lautan manusia yang datang bukan karena diundang protokol — tapi karena hati mereka memiliki alamat yang sama.
Di sinilah, Kamis (25/6/2026), Syarifudin menggelar santunan untuk 250 anak yatim piatu.
Syarifudin bukan siapa-siapa. Tidak punya perusahaan. Tidak punya jabatan. Sehari-hari ia mendorong gerobak cireng, berkeliling gang demi gang di Kota Tasikmalaya, menjual gorengan tepung singkong seharga beberapa ribu rupiah per bungkus. Dari situlah ia hidup. Dan dari situlah pula — luar biasanya — ia berbagi.
Dulu 40, Kini 250
Ada yang berubah dari Syarifudin dalam beberapa tahun terakhir. Bukan gerobaknya. Bukan jualannya. Yang berubah adalah skala kebaikannya.
“Dulu hanya sekitar 40 anak,” katanya dengan suara yang tenang — suara orang yang tidak sedang pamer, tapi sedang bersyukur. “Sekarang Alhamdulillah sudah mencapai 250 anak.”
Angka itu bukan pertumbuhan bisnis. Itu adalah pertumbuhan kepedulian. Satu demi satu donatur bergabung. Pedagang Nasi Goreng Tegal ikut urunan. Komunitas Gabungan Anak Jalanan atau GAZA turun tangan. Dan perlahan, dari sesuatu yang kecil, tumbuhlah sesuatu yang besar.
Di meja-meja panjang itu tersaji nasi goreng, martabak, buah-buahan, dan minuman. Bukan makanan mahal. Tapi bagi anak-anak itu, ini bukan soal menu. Ini soal rasa: ada yang ingat, ada yang peduli, ada yang mau duduk sejajar dengan mereka.
Enam Tahun Jumat Berkah
Santunan 250 anak yatim itu bukan satu-satunya yang Syarifudin lakukan.
Sejak pandemi Covid-19 melanda — saat banyak orang sibuk menyelamatkan diri sendiri — pria kelahiran Pemalang 1980 ini justru mulai program Jumat Berkah. Waktu itu hanya 20 orang penerima. Kini, enam tahun kemudian, sedikitnya 50 warga membutuhkan dijangkau setiap Jumat tanpa putus.
Tidak ada investor. Tidak ada CSR perusahaan besar. Hanya gerobak cireng, niat tulus, dan keyakinan yang tak goyah.
“Rezeki yang dibagikan tidak akan membuat kita miskin,” ujarnya. “Justru dengan berbagi, hidup terasa lebih berkah dan hati menjadi lebih tenang.”
Kalimat itu bukan slogan. Itu pengalaman hidup seorang pedagang yang sudah membuktikannya sendiri selama bertahun-tahun.
Wakil Wali Kota Pun Terdiam
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Dicky Candra hadir dalam kegiatan itu. Dan ia tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.
“Yang dilakukan Pak Syarifudin sungguh luar biasa. Beliau mengajarkan bahwa berbagi tidak harus menunggu kaya. Ketulusan hati dan niat baik adalah modal utama untuk membantu sesama,” ujar Dicky.
Seorang pejabat yang memuji pedagang cireng. Bukan basa-basi protokoler — tapi pengakuan bahwa ada jenis kekayaan yang tidak bisa diukur dari saldo rekening.
Teladan dari Gang Sempit
Indonesia punya banyak orang kaya. Tapi tidak banyak yang seperti Syarifudin.
Ia kaya bukan karena harta. Ia kaya karena pilihan. Pilihan untuk tidak menunggu cukup dulu baru berbagi. Pilihan untuk percaya bahwa dari tangan yang kosong pun, kebaikan bisa mengalir.
Dari sebuah gerobak cireng yang berderak di jalan-jalan Kota Tasikmalaya, telah lahir gerakan diam yang mengubah ratusan anak yatim — bukan dengan uang besar, tapi dengan sesuatu yang jauh lebih langka:
Ketulusan yang konsisten






