Internasional

Misteri Absennya Mojtaba Khamenei di Balik Megahnya Prosesi Pemakaman Sang Ayah

×

Misteri Absennya Mojtaba Khamenei di Balik Megahnya Prosesi Pemakaman Sang Ayah

Sebarkan artikel ini
Pemakaman Ali Khamenei
Puluhan Juta Warga Iran Hadiri Pemakaman Ali Khamenei

TEHERAN – Lautan manusia memenuhi jalanan Teheran seiring dengan prosesi akbar upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang dihadiri oleh sekitar 20 juta warga Iran dan ratusan delegasi negara sahabat.

Di tengah suasana haru dan khidmat yang menyelimuti negara tersebut, sebuah tanda tanya besar justru mengemuka dari pihak internal lingkaran kekuasaan tertinggi Teheran.

Putra sekaligus sosok yang digadang-gadang sebagai penerus mendiang, Mojtaba Khamenei, secara mengejutkan tidak terlihat di depan publik dalam upacara yang berlangsung selama enam hari tersebut. Sejak peristiwa pembunuhan ayahnya dalam serangan udara kolaborasi Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Februari 2026 lalu, sang penerus memang belum pernah sekalipun muncul di hadapan umum.

Otoritas tinggi Iran mengonfirmasi bahwa ketidakhadiran pria berusia 56 tahun itu dalam ritual pemakaman nasional murni disebabkan oleh pertimbangan tingkat keamanan yang ekstrem. Berdasarkan laporan media internasional Al Jazeera, nyawa Mojtaba kini tengah berada dalam status bahaya tinggi menyusul adanya ancaman pembunuhan yang terus dilancarkan secara terbuka oleh intelijen Israel terhadap dirinya.

Mojtaba dilaporkan sempat mengalami luka-luka dalam operasi pengeboman kompleks kepresidenan pada 28 Februari lalu, yang menewaskan sang ayah beserta empat anggota keluarga inti lainnya—termasuk istri, saudara perempuan, ipar, serta keponakannya yang masih berusia 14 bulan. Di tengah kepungan jutaan pelayat yang meratapi tragedi tersebut, kantor berita Associated Press melaporkan hanya tiga putra mendiang Ali Khamenei lainnya yang terlihat tegap mendampingi jenazah, yakni Masoud, Meysam, dan Mostafa.

Meski memilih bersembunyi di lokasi rahasia demi menghindari bidikan militer asing, eksistensi kepemimpinan Mojtaba tetap terasa lewat beberapa pesan tertulis kenegaraan yang dirilisnya baru-baru ini. Pada 18 Juni, ia secara mengejutkan mengumumkan telah mengesahkan nota kesepahaman (MoU) geopolitik baru antara Iran dan AS. Disusul pada pesan tertulis tertanggal 28 Juni, ia menggaungkan seruan keadilan internasional bagi para pelaku penyerangan.

“Yang pasti adalah para penjahat harus ditangkap dan dihadapkan pada hukuman atas tindakan kriminal mereka,” tegas Mojtaba melalui maklumatnya.

Sementara itu dari Washington, Presiden AS Donald Trump menegaskan pihaknya sengaja menahan diri untuk tidak meluncurkan serangan udara sekunder selama jalannya prosesi berkabung di Teheran tersebut.

“Mereka semua ada di sana. Satu tembakan saja, kami bisa menghabisi mereka semua. Tapi kami tidak akan melakukannya karena nanti kami tidak punya lagi pihak untuk diajak bernegosiasi,” cetus Trump dalam wawancaranya bersama Axios