Olahraga

Gagal di Madrid, Xabi Alonso Coba Peruntungan Duduki Kursi Panas Chelsea

×

Gagal di Madrid, Xabi Alonso Coba Peruntungan Duduki Kursi Panas Chelsea

Sebarkan artikel ini
Xabi Alonso
Pada Mei 2026, Chelsea resmi menunjuk Xabi Alonso sebagai manajer baru dengan kontrak empat tahun, mulai 1 Juli 2026

LONDON – Nama Xabi Alonso pernah jadi salah satu yang paling bersinar di sepak bola modern. Setelah sukses luar biasa sebagai pemain, pria kelahiran Tolosa, Spanyol, 25 November 1981, meroket saat melatih Bayern Leverkusen. Sempat gagal di Real Madrid, kini mencoba peruntungan jadi pelatih Chelsea.

Pada Mei 2026, Chelsea resmi menunjuknya sebagai manajer baru dengan kontrak empat tahun, mulai 1 Juli 2026. Tugasnya berat: mengembalikan The Blues ke papan atas Inggris dan Eropa.

Sebagai gelandang, Alonso adalah salah satu yang terbaik di generasinya. Visi bermain, akurasi operan jarak jauh, dan kemampuan membaca permainan membuatnya menjelma menjadi pilar penting di Liverpool (2004–2009), Real Madrid (2009–2014), dan Bayern Munich (2014–2017). Ia juga menjadi bagian dari era emas Spanyol yang menjuarai Piala Dunia 2010 serta Euro 2008 dan 2012.

Pengalaman belajar dari Pep Guardiola, Jose Mourinho, Carlo Ancelotti, dan Rafa Benitez membentuk filosofi taktik Xabi Alonso yang matang.

Karier kepelatihannya dimulai di akademi Real Madrid, lalu membawa Real Sociedad B promosi ke divisi dua Spanyol. Namun puncaknya terjadi di Bayer Leverkusen (2022–2026). Di musim 2023/2024, profil Xabi Alonso pelatih Chelsea mencatatkan sejarah emas: Leverkusen menjadi tim pertama yang menyelesaikan musim Bundesliga tanpa terkalahkan (The Invincibles).

Rekor 28 kemenangan dan 6 imbang mengakhiri dominasi Bayern Munich setelah 12 tahun. Mereka juga memecahkan rekor Eropa dengan 51 pertandingan tak terkalahkan di semua kompetisi.

Filosofi taktik Xabi Alonso tidak terpaku pada formasi statis, melainkan sistem yang sangat fleksibel. Di Leverkusen, formasi 3-4-2-1 menjadi kunci. Ia mengutamakan penguasaan bola dengan operan pendek cepat serta gegenpressing intens untuk merebut bola kembali dalam hitungan detik.

Pendekatan humanisnya membuatnya dekat dengan para pemain muda dan dihormati di ruang ganti.

Keputusannya memilih Chelsea, bukan Liverpool, mengejutkan banyak pihak. Ia diberi gelar manager, yang memberinya otoritas lebih besar. Staf kepelatihannya juga istimewa, termasuk Sebastian ‘Sebas’ Parrilla sebagai tangan kanan dan Ismael Camenforte Lopez yang dijuluki “ball butler”. Profil Xabi Alonso pelatih Chelsea kini memasuki babak baru.

Ia ingin mengembalikan kejayaan The Blues. “Ultimate goal is clear,” tegasnya.