WASHINGTON – Perang AS Iran berkepanjangan di Selat Hormuz, perundingan damai pun buntu. Tekanan terhadap Presiden Donald Trump makin meningkat ketika kelompok Hothi menutup Selat Bab el-Mandeb.
Jalur sempit ini terletak di antara Yaman dan Semenanjung Arab di satu sisi, serta Djibouti dan Eritrea di sisi lain. Sebagai pintu masuk selatan Laut Merah yang menghubungkan Samudra Hindia, Selat Bab el-Mandeb menjadi jalur wajib bagi kapal-kapal yang melintasi Terusan Suez menuju Eropa dan Asia.
Menurut laporan Al Jazeera, sekitar 10 hingga 12 persen perdagangan maritim global melewati Selat Bab el-Mandeb setiap hari, termasuk jutaan barel minyak. Gerakan Houthi di Yaman terus melancarkan serangan yang mengancam kapal komersial. Ancaman ini berpotensi memperburuk gangguan pasokan minyak dunia dan mendorong harga minyak naik lebih tinggi.
Saudi Arabia membentuk koalisi militer untuk melindungi pelayaran di Laut Merah. Sebanyak 14 negara, termasuk Turki, Mesir, dan Pakistan, menyatakan dukungan terhadap koalisi tersebut. Jika perusahaan pelayaran menilai jalur ini terlalu berbahaya, kapal-kapal terpaksa berbelok melalui ujung selatan Afrika. Rute alternatif itu menambah waktu tempuh hingga berminggu-minggu sekaligus menaikkan biaya transportasi secara signifikan.
Menurut Mantan US National Security Council, Charles Kupchan, Iran dan sekutu regionalnya tidak berusaha mengalahkan Amerika Serikat secara militer untuk meningkatkan tekanan. “Cukup dengan mengancam jalur pelayaran tersibuk dunia seperti Selat Bab el-Mandeb, mereka mampu menaikkan biaya ekonomi global,” kata Kupchan, saat diwawancara Al Jazeera, Senin (3/8/2026).
Sementara Analis Iran untuk Congress AS, Kenneth Katzman melihat tidak ada titik tengah yang mudah dalam konflik AS dan Iran. Negosiasi yang digelar Oman pun dinilai sulit menghasilkan kompromi yang diterima semua pihak, termasuk sekutu Teluk.
Menyinggung persediaan senjata, terutama rudal pertahanan udara seperti Patriot, Kupchan mengatakan kondisinya semakin menipis setelah digunakan di berbagai front, termasuk Ukraina. Biaya produksi tinggi dan waktu pembuatan lama membuat Pentagon khawatir. “Kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan utama bagi Amerika Serikat untuk mencari solusi diplomatik agar konflik tidak semakin berlarut,” tandasnya.




