TEHERAN – Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengambil langkah taktis dengan melantik enam komandan militer senior untuk menduduki posisi strategis. Perombakan besar-besaran ini mencakup penunjukan Ali Abdollahi sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Ahmed Vahidi sebagai Komandan Tertinggi IRGC, serta Hussein Taeb memimpin paramiliter Basij.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Iran siap perang demi menghadapi eskalasi ketegangan geopolitik yang kian memanas.
Penunjukan penting lainnya menempatkan mantan Pemimpin IRGC, Mohsen Rezai, sebagai perwakilan di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Pengamat politik Universitas Ilmu Terapan Tehran, Profesor Mustafa Khoshcheshm, menilai perombakan ini menegaskan arah kebijakan pertahanan Iran.
Menurutnya, jajaran komandan baru ini mengindikasikan secara jelas bahwa Iran siap perang dan beralih menggunakan strategi ofensif di kawasan.
Kalkulasi politik Tehran memperhitungkan bahwa Amerika Serikat tidak berniat jujur dalam meja perundingan. Pengalaman pelanggaran kesepakatan serta serangan udara berulang membuat Iran memprediksi potensi konflik berskala penuh dalam waktu dekat.
Kehadiran figur senior seperti Mohsen Rezai menjadi motor penggerak utama karena pengaruh besarnya di sektor militer dan ekonomi, sekaligus membuktikan Iran siap perang secara totalitas.
Di tengah situasi yang kian menggenting ini, konsolidasi internal kekuatan militer Iran terus dipacu pada seluruh lini pertahanan. Penunjukan para tokoh senior berpikiran ofensif ini mempertegas ikhtiar Tehran untuk tidak lagi bertahan, melainkan siap membalas setiap potensi agresi. Langkah manuver tersebut makin mengukuhkan posisi tegas bahwa Iran siap perang demi menjaga kedaulatan negaranya dari ancaman luar.




