TEHRAN – Eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah kian memanas setelah pimpinan tertinggi pemerintah Tehran melontarkan respons menohok terhadap Washington. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya kini tengah menghadapi pertempuran berskala penuh di sektor militer, keamanan, hingga sanksi ekonomi.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan dalam pidato resminya untuk merespons ancaman tekanan baru yang dilontarkan Gedung Putih. Meski pihak Washington mengklaim telah menyiapkan sanksi ekonomi paling melumpuhkan, Presiden Iran membantah keras anggapan musuh bahwa negaranya bakal mengalami kejatuhan total seperti yang dialami Venezuela.
Hampir enam bulan sejak gejolak perang dengan Amerika Serikat dan Israel pecah, sektor perdagangan Tehran memang menderita akibat blokade angkatan laut. Namun, di tengah keterbatasan ekspor minyak akibat sanksi ekonomi tersebut, sang Presiden Iran menegaskan komitmen pemerintahannya untuk tetap berdiri teguh menjaga stabilitas nasional serta melayani kebutuhan rakyat.
“Iran akan tetap berdiri teguh di tengah situasi perang yang tidak seimbang ini,” tegas Pezeshkian seperti dilaporkan kantor berita IRNA, Minggu (23/8/2026).
Ketegangan makin tajam menyusul jalan buntu negosiasi nota kesepahaman terkait navigasi di Selat Hormuz. Menyikapi ancaman sanksi ekonomi lanjutan dari AS, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei turut memperingatkan bahwa pihak Tehran siap melancarkan balasan berskala besar demi mempertahankan kedaulatan wilayahnya dari gertakan musuh.





