Internasional

Sudah Tak Ada Kapal Induk AS di Indo-Pasifik, Akankah Cina Bergerak?

×

Sudah Tak Ada Kapal Induk AS di Indo-Pasifik, Akankah Cina Bergerak?

Sebarkan artikel ini
USS George Washington, kapal induk Amerika Serikat, ditarik sementara dari kawasan Indo-Pasifik untuk mendukung operasi di Timur Tengah.
USS George Washington, kapal induk Amerika Serikat, ditarik sementara dari kawasan Indo-Pasifik untuk mendukung operasi di Timur Tengah.

WASHINGTON — Posisi Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik menghadapi sorotan setelah kapal induk terakhir AS di kawasan tersebut, USS George Washington, ditarik sementara untuk menggantikan USS Abraham Lincoln dalam operasi di Timur Tengah di tengah perang dengan Iran.

Indo-Pasifik merupakan kawasan strategis bagi Washington. Wilayah operasi Komando Indo-Pasifik AS mencakup lebih dari separuh permukaan bumi dan meliputi sejumlah titik strategis, termasuk China, Korea Utara serta jalur pelayaran utama dunia.

Kawasan tersebut juga memiliki arti penting bagi perekonomian global. Sebagian besar perdagangan internasional melewati jalur perairan Indo-Pasifik, sementara sembilan dari 10 pelabuhan terbesar dunia berada di kawasan tersebut.

Taiwan juga menjadi salah satu titik strategis karena memiliki industri semikonduktor yang sangat penting bagi rantai pasok teknologi global. Taiwan disebut memproduksi lebih dari 60 persen semikonduktor dunia dan lebih dari 90 persen chip tercanggih.

Karena itu, perubahan postur militer AS di kawasan tersebut berpotensi memiliki implikasi lebih luas terhadap keamanan sekaligus perekonomian Amerika dan negara-negara sekutunya.

Meski USS George Washington ditarik dari Laut China Selatan, Gedung Putih menegaskan kepada Al Jazeera bahwa Amerika Serikat tetap mempertahankan postur kekuatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan strategis yang ditetapkan presiden sebagai panglima tertinggi.

Pejabat Angkatan Laut AS juga menegaskan bahwa kekuatan Amerika di kawasan Indo-Pasifik tetap mencakup sekitar 400.000 personel militer dan sipil serta sekitar 200 kapal.

Menurut pihak Angkatan Laut, kemampuan beroperasi di berbagai medan perang secara bersamaan merupakan keunggulan strategis Amerika Serikat, bukan kelemahan.

Namun, perkembangan tersebut tetap memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan Washington mempertahankan fokus strategisnya di Indo-Pasifik ketika konflik di Timur Tengah membutuhkan pengerahan sumber daya militer dalam skala besar.

Direktur Program Asia Tenggara Center for Strategic and International Studies (CSIS), Gregory Poling, menilai perkembangan tersebut berpotensi dimanfaatkan China untuk meningkatkan keraguan di antara sekutu dan mitra Amerika Serikat.

Poling mengatakan Beijing masih memiliki kepentingan terhadap stabilitas hubungan bilateral dengan Washington. Namun, menurutnya, China juga dapat memperoleh keuntungan strategis dari melemahnya persepsi terhadap kredibilitas Amerika di mata sekutunya.

“Keluhan terbesar Tiongkok selama ini adalah jaringan aliansi ini: Korea Selatan, Jepang, Filipina, dan Australia,” kata Poling dalam wawancara dengan Al Jazeera.

Menurutnya, jaringan aliansi tersebut merupakan salah satu faktor utama yang membuat Amerika Serikat tetap menjadi kekuatan penting di kawasan Pasifik.

“Tanpa sekutu-sekutu tersebut, kita bukanlah kekuatan Pasifik,” ujarnya.

Poling menilai keraguan terhadap komitmen Amerika semakin berkembang setelah muncul sejumlah keputusan terkait postur militernya, mulai dari penempatan kembali kapal induk hingga pembatalan atau pengurangan skala latihan militer.

Ia mengatakan, apabila hanya satu keputusan yang terjadi, negara-negara sekutu mungkin masih dapat menganggapnya sebagai bagian dari penyesuaian rutin. Namun, rangkaian keputusan dalam waktu relatif berdekatan berpotensi membentuk persepsi berbeda.

“Semuanya makin memperkuat kekhawatiran mereka. Jika hanya satu dari hal-hal ini, mungkin masih bisa dimaklumi, tetapi sekarang hal tersebut memiliki momentum yang benar-benar menanamkan keraguan di antara sekutu dan mitra AS,” kata Poling.

Kekhawatiran tersebut terutama muncul di negara-negara yang selama ini bergantung pada komitmen keamanan Amerika Serikat, termasuk Jepang, Korea Selatan, Filipina dan Australia.

Selain persoalan pengerahan kekuatan, perhatian juga tertuju pada kemampuan Amerika mempertahankan stok amunisi dan kapasitas militernya apabila harus menghadapi beberapa konflik secara bersamaan.

Di sisi lain, pendekatan Washington terhadap Korea Utara dan pemimpin negara tersebut, Kim Jong-un, juga menjadi bagian dari perdebatan mengenai arah kebijakan AS di Asia.

Bagi sejumlah pengamat, perubahan prioritas Amerika dapat memengaruhi kalkulasi strategis negara-negara di Indo-Pasifik, terutama ketika China terus memperluas pengaruhnya dan meningkatkan tekanan terhadap Taiwan.

Situasi tersebut membuat kredibilitas aliansi Amerika menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan keseimbangan kekuatan di Indo-Pasifik.

Dengan demikian, penarikan sementara USS George Washington tidak serta-merta menunjukkan Amerika Serikat meninggalkan Indo-Pasifik. Namun, langkah tersebut menjadi ujian terhadap kemampuan Washington meyakinkan sekutu bahwa komitmen strategisnya terhadap kawasan tetap kuat di tengah meningkatnya tuntutan militer di berbagai medan konflik.