Peristiwa

Secercah Harapan Baru 220 Penarik Becak Tasikmalaya

×

Secercah Harapan Baru 220 Penarik Becak Tasikmalaya

Sebarkan artikel ini
Yaya Cahya menerima bantuan becak listrik di Balai Kota Tasikmalaya, Selasa 8 September 2026.
Yaya Cahya menerima bantuan becak listrik di Balai Kota Tasikmalaya, Selasa 8 September 2026.

TASIKMALAYA — Senyum dan rasa syukur terpancar dari wajah 220 penarik becak di Kota Tasikmalaya saat menerima bantuan becak listrik di Lapangan Apel Bale Kota Tasikmalaya, Selasa (8/9/2026).

Bagi para penarik becak tersebut, bantuan itu bukan sekadar kendaraan baru. Becak listrik diharapkan dapat meringankan beban fisik sekaligus membantu mereka tetap bertahan di tengah perubahan pola transportasi dan persaingan dengan layanan transportasi berbasis aplikasi.

Salah satunya dirasakan Yaya Cahya (55), warga Jalan Tajur, Kelurahan Panyingkiran, Kecamatan Indihiang. Sejak muda, Yaya menekuni pekerjaan sebagai penarik becak.

Namun, bertambahnya usia membuat pekerjaan yang mengandalkan tenaga fisik semakin berat. Di sisi lain, jumlah penumpang yang tidak menentu membuat penghasilannya ikut terpengaruh.

Karena itu, Yaya menyambut bantuan becak listrik tersebut dengan penuh harapan.

“Saya senang dapat bantuan becak listrik ini dari pemerintah,” ucap Yaya.

Ia berharap keberadaan becak listrik dapat membuatnya lebih mudah menarik penumpang dan kembali mendapatkan penghasilan yang lebih baik.

“Mudah-mudahan dengan bantuan becak listrik ini, tambah banyak penumpang dan makin ramai. Saya rindu suasana ramai seperti dulu,” ungkapnya.

Entur: Joknya Lebih Empuk, Ngegoes Tak Lagi Berat

Cerita serupa datang dari Entur Turjana (64), warga Kalangsari, Babakan Anyar, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes.

Selama sekitar 10 tahun, Entur mengandalkan becak manual untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia biasa mulai bekerja sejak pukul 05.30 WIB hingga malam.

Saat pertama kali mencoba becak listrik yang diterimanya, Entur langsung merasakan perbedaan dari kendaraan yang selama ini digunakannya.

“Ini joknya empuk, enak ya? Dibandingkan becak saya yang dulu, jauh lebih empuk ini,” katanya sambil tersenyum.

Entur mengaku sebelumnya telah mengikuti proses pendataan sekitar sebulan sebelum menerima bantuan serta mendapatkan pelatihan singkat untuk mengoperasikan kendaraan listrik.

“Biasanya saya pakai becak goes. Sudah 10 tahun saya narik, alhamdulillah senang sekali dapat becak ini,” tuturnya.

Becak lamanya pun rencananya tidak lagi digunakan untuk bekerja.

“Dipensiunkan saja, jadi kenang-kenangan,” ujarnya.

Entur mengatakan pekerjaan sebagai penarik becak tidak selalu memberikan penghasilan tetap. Ia biasa mangkal di kawasan Simpang Lima yang menurutnya belakangan cukup sepi penumpang.

Dalam kondisi tertentu, penghasilannya hanya sekitar Rp25 ribu sehari, bahkan tidak mendapatkan penghasilan sama sekali.

Becak listrik kini memberi sedikit keringanan. Kendaraan tersebut tetap dapat dikayuh secara manual ketika diperlukan, tetapi tenaga yang dikeluarkan lebih ringan.

“Dulu kalau nge-goes capek banget. Sekarang, alhamdulillah, dapat bantuan jadi lebih ringan. Tinggal maju saja, atau kalau mau dikayuh juga bisa, tapi jauh lebih enteng,” jelasnya.

Tetap Menarik Becak demi Keluarga

Bagi Entur, usia bukan alasan untuk berhenti bekerja. Ia masih memiliki tanggung jawab terhadap keluarga dengan enam anak dan enam cucu. Tiga dari enam anaknya telah menikah.

Kondisi tersebut membuat Entur memilih tetap bekerja selama masih mampu.

“Anak 6, cucu juga 6. Yang sudah nikah baru tiga. Saya akan terus narik becak sampai kapanpun, karena saya butuh uang untuk mereka,” pungkasnya.

Bantuan 220 unit becak listrik di Kota Tasikmalaya menjadi harapan baru bagi para penarik becak yang selama ini mengandalkan tenaga fisik untuk mencari nafkah.

Bagi Yaya, Entur, dan para penarik becak lainnya, kendaraan tersebut diharapkan bukan hanya membuat pekerjaan lebih ringan, tetapi juga membuka peluang untuk mendapatkan penumpang dan penghasilan yang lebih baik.

Dengan tenaga yang lebih ringan, mereka kini kembali menyusuri jalanan Kota Tasikmalaya membawa penumpang sekaligus mempertahankan sumber penghidupan bagi keluarga.