Peristiwa

Api Siluman Gambut: Karhutla 2026 Naik 69 Persen!

×

Api Siluman Gambut: Karhutla 2026 Naik 69 Persen!

Sebarkan artikel ini
karhutla di kawasan gambut Kalimantan yang apinya menjalar ke lapisan bawah tanah, September 2026.
karhutla di kawasan gambut Kalimantan yang apinya menjalar ke lapisan bawah tanah, September 2026.

JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan kembali menghantui Indonesia pada September 2026. Data Kementerian Kehutanan melalui SiPongi+ mencatat luas karhutla Indonesia 2026 pada Januari-Juli mencapai 202.004,30 hektare, naik 69 persen dibanding periode sama 2025. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm bahwa api sedang bekerja diam-diam.

BMKG menjelaskan atmosfer Indonesia pada September 2026 relatif kering. Fenomena El Niño berada pada kategori sangat kuat dengan anomali suhu muka laut Niño 3.4 mencapai +2,76 derajat Celsius. Pengaruh El Niño diperkirakan bertahan hingga awal 2027. Kondisi ini membuat vegetasi kehilangan kandungan air dan mudah terbakar. Pada 13 September 2026, BMKG mendeteksi ratusan hotspot dengan konsentrasi terbesar di Kalimantan sebanyak 627 titik.

Namun cuaca bukan satu-satunya penyebab. Kementerian Lingkungan Hidup menyebut sebagian besar kebakaran lahan gambut berkaitan dengan aktivitas manusia, baik sengaja maupun lalai. Praktik buka lahan dengan api menjadi persoalan berulang. Yang lebih rumit: lahan gambut yang kering membuat api tidak hanya membakar permukaan, tetapi menjalar ke lapisan bawah tanah. Bara di bawah permukaan berpotensi memunculkan titik api baru setelah permukaan terlihat padam—inilah “api siluman” yang sulit dideteksi.

Gambaran besarnya terlihat di Riau. BNPB mencatat luas lahan terbakar sejak 1 Januari hingga 4 September 2026 mencapai 18.882,16 hektare. Penanganan dilakukan melalui operasi darat, patroli udara, water bombing, dan Operasi Modifikasi Cuaca. Kalimantan Tengah juga tertekan: hingga 19 September, Posko Karhutla mencatat sekitar 3.800 kejadian dengan luasan ditangani hampir 13.000 hektare. Namun analisis citra satelit Kementerian Kehutanan mencatat 7.634 hektare—perbedaan metode penghitungan yang menunjukkan kompleksitas persoalan.

Dampak karhutla Indonesia 2026 tidak berhenti di kawasan terbakar. Asap menurunkan kualitas udara, mengganggu jarak pandang, dan menghambat aktivitas. BMKG mendeteksi sebaran asap di Sumatra, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Pencegahan menjadi kunci: menjaga gambut tetap basah, deteksi dini hotspot, dan menghentikan budaya bakar lahan. Selama faktor cuaca, manusia, dan gambut tidak ditangani bersamaan, api siluman akan terus kembali.(Elfi)