PURWAKARTA – Belasan kendaraan ringsek, badan jalan tertutup total, dan kemacetan mengular sejauh tiga kilometer. Itulah potret Tol Cipularang KM 91+900, Rabu (7/10/2026) siang. Namun di tengah kekacauan itu, sebuah keajaiban terjadi: tidak ada satu pun nyawa melayang.
Insiden bermula sekitar pukul 12.30 WIB saat arus dari Bandung menuju Jakarta melambat. Pemicunya, aktivitas perbaikan papan reklame di bahu jalan. Antrean kendaraan pribadi, travel, minibus, dan pikap mulai merayap.
Dari arah belakang, sebuah truk trailer oranye bernomor polisi B 9773 UEL meluncur deras. Diduga rem blong, truk itu menyeruduk Suzuki pikap bermuatan sawi di depannya. Efek karambol tak terhindarkan—belasan mobil saling hantam dan melintang menutupi jalur.
“Kami masih mendalami penyebab pasti. Dugaan awal rem blong dan pengemudi kurang antisipasi antrean,” kata petugas PJR Tol Cipularang di lokasi.
Yang menarik, dari 14-15 kendaraan terlibat, nol korban jiwa. Rata-rata pengendara hanya syok dan luka ringan. Justru sang sopir truk, Agung, yang mengalami luka paling berat: patah tulang kaki akibat kabin truknya menghantam kendaraan lain.
Ironi Jalur Penyelamat
Titik nahas ini bukan pertama kali. KM 90-93 dikenal sebagai blackspot dengan turunan tajam berbelok. Jasa Marga sebenarnya telah menyiapkan Emergency Safety Area di KM 91+400, hanya 500 meter sebelum lokasi.
Namun, karena kemacetan terjadi di KM 91+900, truk malang itu tidak sempat memanfaatkan fasilitas peredam laju tersebut. Sungguh jarak yang begitu dekat, namun tak terjangkau.
Dua Kontroversi yang Mencuat
Pertama, protes soal minimnya rambu. Haris, pengemudi minibus korban, menilai tanda perbaikan seharusnya dipasang ratusan meter sebelumnya. “Kalau ada peringatan dini, kami bisa waspada dan tidak rem mendadak yang bikin antrean panjang,” kritiknya.
Kedua, kendala sinyal di lokasi darurat. Warga yang hendak menelepon 133 mengaku panggilan terus gagal karena sinyal hanya menangkap jaringan EDGE. Keluhan pun mengalir soal pentingnya penguatan telekomunikasi di jalur rawan kecelakaan.
Dua ironi di satu titik: jalur penyelamat yang terlewat, dan sinyal darurat yang hilang saat paling dibutuhkan.




