KARAWANG – Laut Jawa kembali membawa kabar buruk ke pesisir utara Karawang.
Ceceran minyak mentah berwarna hitam dan lengket ditemukan mengotori pasir pantai di wilayah Desa Sungaibuntu, Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang, Selasa (25/8/2026).
Bagi warga pesisir, minyak bukan sesuatu yang seharusnya tiba-tiba datang bersama ombak.
Apalagi kalau yang datang bukan ikan.
Melainkan minyak mentah.
Temuan tersebut bermula dari laporan nelayan setempat yang beberapa pekan sebelumnya melihat gelembung muncul dari permukaan perairan Laut Jawa. Informasi itu, menurut warga, belum mendapat penanganan lebih lanjut.
Selasa lalu, Wanusuki, warga Desa Sungaibuntu yang juga dikenal sebagai aktivis lingkungan, melihat sendiri ceceran minyak kembali muncul di sepanjang pantai.
Ia langsung teringat kejadian serupa pada 2019.
“Waktu itu, tumpahan minyak mentah mengotori pantai di sepanjang pesisir utara Karawang. Kini peristiwa itu terulang kembali,” ujar Wanusuki.
Yang membuatnya lebih khawatir bukan hanya minyak yang sudah sampai ke pantai.
Tetapi tanda-tandanya sudah muncul dari laut.
Beberapa pekan sebelumnya nelayan melihat gelembung air.
Bagi masyarakat yang sehari-hari membaca laut, gelembung semacam itu tentu bukan pemandangan yang boleh dianggap biasa.
Wanusuki menduga tumpahan minyak berasal dari kebocoran pipa milik Pertamina yang beroperasi di wilayah perairan tersebut.
Menurut dia, minyak dari kebocoran pipa dapat terbawa arus dan angin timur hingga mencapai pesisir Karawang.
Ia menilai kemungkinan minyak berasal dari pembuangan limbah kapal relatif kecil.
“Kecil kemungkinan minyak itu merupakan buangan dari kapal. Sebab, kapal yang membuang limbah minyak biasanya dilakukan di tengah lautan, sehingga tidak sampai mencemari pantai,” katanya.
Namun dugaan tetaplah dugaan.
Sumber pencemaran tentu perlu dipastikan melalui pemeriksaan dan penelusuran di lapangan.
Yang sudah pasti adalah minyak itu kini berada di pantai.
Dan pantai tidak pernah bisa membedakan apakah minyak tersebut berasal dari pipa, kapal, atau sumber lainnya.
Ia tetap akan mencemari.
Wanusuki juga menyoroti lambannya respons terhadap laporan nelayan mengenai gelembung di tengah laut.
Menurutnya, laporan tersebut semestinya menjadi alarm awal untuk segera dilakukan pemeriksaan.
“Jika informasi dari nelayan direspons lebih awal, kemungkinan kebocoran bisa ditanggulangi lebih cepat. Tapi kini, tumpahan minyak sudah mencemari pantai,” ujarnya.
Dampaknya pun bukan perkara kecil.
Minyak mentah yang menempel di pasir dapat mengganggu aktivitas warga sekaligus mengancam ekosistem pesisir.
Biota laut yang hidup di kawasan tersebut juga berpotensi terdampak.
Nelayan melihat gelembung.
Warga melihat minyak.
Pantai menerima akibatnya.
Tinggal satu pekerjaan penting: mencari tahu dari mana minyak itu datang dan menghentikannya sebelum laut kembali mengantarkannya ke pantai.
Karena kalau kejadian 2019 kini terulang, pertanyaannya bukan lagi apakah pesisir Karawang pernah tercemar minyak.
Pertanyaannya: mengapa laut harus menunggu sampai pantai yang berbicara?




