BEIJING – Langkah Washington yang meluncurkan sanksi AS terbaru untuk mengisolasi Tehran dari ekonomi global menuai perlawanan keras dari Beijing. Pemerintah Tiongkok secara terbuka mengecam sanksi sepihak tersebut dan menegaskan bakal terus melanjutkan hubungan dagang, khususnya impor minyak Iran.
Kementerian Luar Negeri Tiongkok menegaskan bahwa tekanan ekonomi ekstrem yang dilancarkan Washington tidak akan menyelesaikan masalah, melainkan justru memperkeruh tatanan keuangan global. Beijing menilai pembatasan transaksi terhadap perusahaan serta armada kapal pengangkut minyak Iran tanpa persetujuan Dewan Keamanan PBB merupakan tindakan yang tidak sah secara hukum internasional.
Sebagai pembeli terbesar minyak Iran, Tiongkok menyatakan seluruh aktivitas komersial dan kerja sama ekonominya dengan Tehran berjalan secara sah dan sah di mata hukum. Beijing memastikan tidak akan tunduk pada intimidasi ekonomi Washington dan siap mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk melindungi hak serta kepentingan bisnis nasionalnya.
“Perang ekonomi dan tekanan ekstrem tidak akan membantu menyelesaikan masalah, melainkan hanya akan makin memperuncing konflik,” tegas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian dikutip Al Jazeera, Kamis (27/8/2026).
Eskalasi ini menempatkan Tiongkok dan Amerika Serikat berada dalam jalur perselisihan sengit menjelang rencana pertemuan puncak antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump. Beijing menegaskan bahwa perekonomian negaranya memiliki ketahanan tinggi untuk menghadapi gertakan sanksi AS dan tidak dapat ditekan begitu saja seperti negara-negara lain.








