JAKARTA – Musim kemarau diperkirakan masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia hingga Oktober 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai dampaknya, terutama kekeringan dan berkurangnya ketersediaan air.
BMKG menegaskan, berlanjutnya kemarau tidak berarti seluruh wilayah Indonesia mengalami kondisi yang sama. Musim hujan diperkirakan datang secara bertahap, dengan sejumlah wilayah Indonesia bagian barat berpotensi lebih dahulu mengalami peningkatan curah hujan.
Dalam pemutakhiran prakiraan musim kemarau Juni 2026, BMKG mencatat 437 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 48,77 persen wilayah yang dipantau diperkirakan mengalami durasi kemarau lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Sebelumnya, BMKG memperkirakan puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli hingga September. Agustus menjadi periode puncak bagi 369 ZOM atau sekitar 48,84 persen luas daratan Indonesia, sedangkan September diperkirakan menjadi puncak kemarau bagi 169 ZOM atau sekitar 25,41 persen luas daratan.
Kondisi tersebut membuat periode Agustus-September perlu mendapat perhatian. Curah hujan yang rendah berpotensi menekan ketersediaan air dan meningkatkan risiko kekeringan, termasuk bagi sektor pertanian.
BMKG juga mencatat sebanyak 482 ZOM atau sekitar 56,18 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami akumulasi curah hujan musim kemarau kategori bawah normal atau lebih kering dibandingkan biasanya.
Memasuki Oktober, hujan diperkirakan mulai kembali turun di sejumlah wilayah. Namun, kedatangan musim hujan tidak berlangsung serentak.
Secara umum, BMKG memperkirakan musim kemarau berakhir sekitar pertengahan Oktober. Setelah itu, peningkatan curah hujan berlangsung secara bertahap dari wilayah barat Indonesia dan kemudian meluas ke wilayah lainnya.
Karena itu, Oktober belum tentu langsung menjadi bulan basah bagi seluruh daerah.
Sejumlah wilayah bahkan masih berpotensi mengalami kondisi relatif kering. Peluang curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan masih cukup tinggi di sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sejumlah wilayah Kalimantan dan Sulawesi, Maluku, hingga Papua Selatan.
Faktor dinamika atmosfer juga menjadi perhatian. BMKG pada pertengahan 2026 memperkirakan peluang terjadinya El Niño meningkat. Dalam pemutakhiran Juni, peluang El Niño kategori lemah mencapai 100 persen, moderat 98 persen, dan kuat 62 persen.
Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena El Niño dapat berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan di Indonesia.
Dampak lainnya adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan. Vegetasi yang mengering akibat minimnya hujan membuat api lebih mudah menyebar apabila terjadi kebakaran.
Karena itu, kesiapsiagaan menghadapi kemarau perlu dilakukan lintas sektor.
Di sektor pertanian, petani dapat menyesuaikan jadwal tanam dengan ketersediaan air. Pemerintah dan pengelola sumber daya air juga perlu memastikan cadangan air tetap tersedia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pengelolaan air, pencegahan kebakaran lahan, hingga perlindungan sektor pangan menjadi bagian penting dalam menghadapi periode kering.
BMKG mengimbau masyarakat tetap mengikuti perkembangan informasi cuaca dan iklim resmi. Sebab, datangnya hujan pada Oktober tidak otomatis berarti seluruh wilayah telah terbebas dari ancaman kekeringan.
Kemarau belum benar-benar selesai. Oktober mungkin membawa hujan, tetapi waktunya tidak datang bersamaan di seluruh Indonesia.








