Politik dan Pemerintahan

Aklamasi Ngatiyana, Target Kursi Golkar Cimahi Dipertaruhkan

×

Aklamasi Ngatiyana, Target Kursi Golkar Cimahi Dipertaruhkan

Sebarkan artikel ini
Ngatiyana menerima amanah sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kota Cimahi dalam Musda, Senin (21/9/2026).
Ngatiyana menerima amanah sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kota Cimahi dalam Musda, Senin (21/9/2026).

 

CIMAHI – Ngatiyana resmi memimpin DPD Partai Golkar Kota Cimahi setelah terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda), Senin (21/9/2026). Ngatiyana Ketua Golkar Cimahi ini tak lagi memiliki ruang untuk sekadar membangun citra politik. Mandat tersebut langsung diikuti pekerjaan besar: membuktikan Golkar mampu memperkuat mesin partai dan mendongkrak perolehan kursi di DPRD Kota Cimahi.

Aklamasi memang memperlihatkan dukungan internal terhadap kepemimpinan Ngatiyana. Namun, dukungan itu sekaligus menjadi beban tanggung jawab. Keberhasilan kepemimpinannya tidak akan cukup diukur dari soliditas forum Musda, melainkan dari sejauh mana struktur partai mampu bekerja dan menghasilkan kekuatan politik pada pemilu berikutnya.

Dalam sambutan pertamanya, Ngatiyana menyampaikan terima kasih kepada Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Daniel Mutaqien Syafiuddin, panitia Musda, kader, serta para senior partai. Mantan prajurit itu menegaskan akan membawa prinsip loyalitas, disiplin, dan dedikasi dalam menjalankan amanah sebagai Ketua DPD Golkar Kota Cimahi.

“Kepercayaan ini adalah penghormatan sekaligus amanah yang harus dilaksanakan semaksimal mungkin. Keberhasilan partai di Kota Cimahi bukan kerja individu, melainkan hasil kerja keras seluruh kader,” ujar Ngatiyana. Pernyataan itu menjadi penanda bahwa pekerjaan Golkar Cimahi tidak boleh berhenti pada seremoni pergantian kepemimpinan.

Target kursi DPRD Kota Cimahi menjadi salah satu ukuran penting keberhasilan kepemimpinannya. Ngatiyana ingin perolehan kursi Golkar meningkat dan melampaui pencapaian sebelumnya. Tidak hanya mengejar tambahan kursi legislatif, ia juga menargetkan Golkar mampu mengambil posisi strategis dalam kepemimpinan daerah. Artinya, partai harus memiliki daya tawar politik yang lebih kuat.

Untuk menuju ke sana, konsolidasi internal menjadi pekerjaan pertama yang harus segera dituntaskan. Ngatiyana menargetkan penyusunan kepengurusan rampung dalam waktu 30 hari. Waktu tersebut bukan sekadar agenda administratif. Kepengurusan baru dituntut mampu menjadi mesin politik yang efektif, memperkuat struktur hingga tingkat bawah, merawat kader, dan membuka ruang lebih luas bagi generasi baru.

Di sisi lain, Ngatiyana Ketua Golkar Cimahi menyatakan Golkar akan terus mendukung pembangunan Kota Cimahi melalui sinergi dengan pemerintah provinsi maupun pusat. Namun, dukungan terhadap pemerintah juga harus berbanding lurus dengan fungsi politik partai. Golkar dituntut tetap memiliki keberanian menyuarakan kepentingan masyarakat.

Kini, setelah Musda menetapkan Ngatiyana secara aklamasi, tantangan sesungguhnya justru dimulai. Ia harus membuktikan bahwa kekuatan politik yang dibangun tidak berhenti pada dukungan internal, tetapi mampu diterjemahkan menjadi organisasi yang solid, kader yang aktif, dan peningkatan target kursi DPRD Kota Cimahi. Aklamasi bukan garis akhir, melainkan awal dari tuntutan pembuktian.