Politik dan Pemerintahan

Bela 17.800 Petani Lahan Mini, Mahasiswa Unsil Geruduk Balaikota

×

Bela 17.800 Petani Lahan Mini, Mahasiswa Unsil Geruduk Balaikota

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa FAPERTA Unsil berunjuk rasa di depan Balekota Tasikmalaya saat Hari Tani Nasional ke-66.
Mahasiswa FAPERTA Unsil berunjuk rasa di depan Balekota Tasikmalaya saat Hari Tani Nasional ke-66.

TASIKMALAYA – Ratusan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi menyampaikan aspirasi di depan Balaikota Tasikmalaya, Rabu (23/9/2026) sore. Aksi mahasiswa FAPERTA Unsil ini bertepatan dengan Hari Tani Nasional ke-66, namun ironisnya Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan berhalangan hadir. Massa akhirnya ditemui Plt Asda I Kota Tasikmalaya, Ade Hendar.

Dalam aksinya, mahasiswa membawa spanduk dan menyampaikan orasi bergantian. Mereka menyoroti reforma agraria Tasikmalaya, perlindungan lahan pertanian, hingga kesejahteraan petani. Aksi teatrikal juga ditampilkan menggambarkan persoalan yang dihadapi petani.

Ketua BEM FAPERTA Unsil, Alik Abidin, menyebut ada kesenjangan antara aturan dan realitas. “Pertanian di Kota Tasikmalaya masih sangat jomplang dengan bagaimana undang-undang seharusnya berjalan,” katanya. Aksi mahasiswa FAPERTA Unsil juga menyoroti pelaksanaan Perda tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

Data yang diungkap mahasiswa cukup menohok: dari sekitar 19 ribu petani pengguna lahan di Kota Tasikmalaya, sekitar 17.800 di antaranya memiliki lahan kurang dari 0,5 hektare. “Petani menguasai lahan pertanian ini sangat sulit. Karena itu, persoalan kemiskinan ekonomi petani menjadi salah satu hal yang kami soroti,” ujar Alik.

Mahasiswa menuntut adanya aturan turunan yang jelas mengatur hak-hak di sektor pertanian. Menurut mereka, reforma agraria Tasikmalaya tidak boleh berhenti sebagai dokumen, tetapi harus dirasakan manfaatnya oleh petani. “Kondisi di lapangan sangat jauh dengan apa yang dituliskan dalam perda,” tegasnya.

BEM FAPERTA Unsil membuka ruang komunikasi dengan pemerintah daerah untuk membahas persoalan pertanian. Namun, jika aspirasi tidak ditindaklanjuti, mereka mempertimbangkan aksi lanjutan. “Kalau tuntutan ini tidak diindahkan, tentunya kami akan melakukan aksi lanjutan,” ujarnya.

Aksi berlangsung tertib dengan pengamanan aparat kepolisian dan Satpol PP. Setelah aspirasi disampaikan, massa membubarkan diri. Reforma agraria Tasikmalaya menjadi PR besar di Hari Tani ke-66: bukan sekadar perayaan, tetapi pembuktian bahwa petani kecil layak mendapat tempat.