Peristiwa

Tanpa Anggaran, Sinergi Pentahelix Dayeuhkolot Bersihkan Saluran

×

Tanpa Anggaran, Sinergi Pentahelix Dayeuhkolot Bersihkan Saluran

Sebarkan artikel ini
Warga RW 16 Citeureup bergotong royong membersihkan endapan lumpur dan sampah di saluran air bersama Tim Pentahelix Dayeuhkolot.
Warga RW 16 Citeureup bergotong royong membersihkan endapan lumpur dan sampah di saluran air bersama Tim Pentahelix Dayeuhkolot.

BANDUNG – Momentum berbeda datang dari RW 16 Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot. Di tengah keterbatasan anggaran, puluhan warga bersama Tim Pentahelix Dayeuhkolot justru menunjukkan bahwa gotong royong masih menjadi senjata ampuh menekan risiko banjir.

Pada Rabu (7/10/2026), Pentahelix Dayeuhkolot menggelar normalisasi saluran air dan kerja bakti lingkungan. Kegiatan itu melibatkan Pemerintah Kecamatan Dayeuhkolot, MUI Desa Citeureup, Relawan PRIMA, dan warga setempat.

Yang menarik, aksi ini berjalan tanpa alokasi dana sepeser pun. Ketua Pentahelix Dayeuhkolot, Tri Rahmanto, menegaskan kolaborasi lintas unsur menjadi kunci utama. “Kami mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi setinggi-tingginya atas kolaborasi nyata berbagai unsur hari ini,” ujarnya di sela kegiatan.

Tri mengakui, tidak semua wilayah menyambut baik ajakan serupa. Di lokasi lain, sebagian warga sempat acuh dan apriori. Kondisi itu membuat capaian di RW 16 terasa istimewa. “Alhamdulillah hari ini, berkat sinergi bersama pihak Kecamatan, Relawan PRIMA, MUI Citeureup, dan warga RW 16, kami dapat membersihkan saluran air agar aliran lancar,” tambahnya.

Normalisasi ini menyasar titik rawan genangan. Warga bahu membahu mengangkat tumpukan sampah, rumput liar, dan endapan lumpur yang menyumbat aliran. Kawasan Citeureup sendiri dikenal langganan banjir saat curah hujan tinggi.

Tri menandaskan, kegiatan ini bukan sekadar seremonial sesaat. Ia menyebutnya bagian dari komitmen berkelanjutan Pentahelix Dayeuhkolot agar wilayah rawan banjir lebih tangguh menghadapi musim hujan. “Peran seluruh warga tetap sangat dibutuhkan untuk menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah ke selokan maupun sungai,” pesannya.

Menariknya, Pentahelix Dayeuhkolot berkomitmen menjadwalkan kegiatan serupa di titik rawan banjir lain, meski tanpa anggaran. “Meski tidak ada anggaran, kami akan terus menjadwalkan kegiatan serupa,” tegas Tri.

Semangat kebersamaan ini diharapkan menular ke wilayah lain di Kecamatan Dayeuhkolot. Sebab, penanganan banjir tidak bisa dilakukan sendirian, melainkan butuh kolaborasi seluruh unsur.