BANDUNG – Sebanyak 60 tokoh nasional yang terdiri dari purnawirawan, ulama, pakar, dan aktivis menggelar Urun Rembuk Kebangsaan di Hotel Asrilia, Bandung, Sabtu (10/10/2026). Pertemuan tersebut menyepakati terbentuknya Kaukus Daulat Rakyat sebagai sarana perjuangan berkedudukan di DKI Jakarta, sekaligus melahirkan Maklumat Bandung.
Ketua Panitia Pelaksana, Brigjen TNI Purn. Hidayat Poernomo, menyampaikan pertemuan ini digelar karena Indonesia dinilai sedang berada di persimpangan jalan sejarah yang krusial. “Fondasi bernegara yang diletakkan para pendiri bangsa kian tergerus oleh gurita oligarki politik dan ekonomi yang memusatkan kekuasaan serta kekayaan hanya pada segelintir elit,” ujarnya.
Ketua Tim Pengarah, Dindin S Maolani, menyatakan kedaulatan rakyat terancam sirna dan cita-cita keadilan sosial kian menjauh dari realitas. Maklumat Bandung ini, katanya, disusun dengan merefleksikan dua nilai historis besar: semangat Hari Kesaktian Pancasila sebagai benteng ideologis, serta jiwa perjuangan Bandung Lautan Api sebagai keteladanan perlawanan total terhadap neo-kolonialisme.
Kaukus Daulat Rakyat menyampaikan lima poin maklumat. Pertama, berkomitmen menanggalkan ego kelompok demi konsolidasi nasional melawan oligarki, dinasti politik, dan campur tangan asing. Kedua, menuntut tindakan hukum transparan dan berkeadilan terhadap Jokowi dan Gibran Rakabuming Raka untuk memutus rantai boneka oligarki.
Ketiga, mendesak DPR RI segera memulai proses pemakzulan Gibran Rakabuming Raka sesuai putusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 1/PHPU-PRES/XXIV/2026 tanggal 6 Oktober 2026. Keempat, menuntut evaluasi total kebijakan dan proyek beban APBN yang merugikan keuangan negara seperti IKN, Rempang, dan Whoosh, serta menghentikan proyek eksklusif seperti PIK 2.
Kelima, mendorong penataan kebijakan ekonomi kerakyatan berkeadilan, menghentikan karpet merah bagi oligarki, membongkar monopoli sumber daya alam, serta mendorong upaya kembali ke UUD 1945 asli dengan perubahannya yang dianggap perlu.
Maklumat Bandung juga menegaskan kaukus mewariskan api perjuangan kepada generasi muda agar kritis, berdaya, dan menjadi garda terdepan merebut kedaulatan rakyat. “Maklumat ini bukan akhir dari pertemuan, melainkan awal dari gerakan moral yang inklusif, damai, namun konsisten,” demikian petikan maklumat yang ditandatangani 60 tokoh, termasuk Prof. Dr. Rochmat Wahab, Jenderal TNI Purn. Tyasno Sudarto, Laksamana TNI Purn. Slamet Soebijanto, Komjenpol Purn. Oegroseno, Dr. M. Said Didu, dan Dr. Refly Harun. “Merdeka!” tutup maklumat tersebut.




