Peristiwa

Cegah SARA, Persada 212 Garut Kumpulkan Tokoh Lintas Iman!

×

Cegah SARA, Persada 212 Garut Kumpulkan Tokoh Lintas Iman!

Sebarkan artikel ini
Tokoh lintas agama dan pemerintah Kabupaten Garut menghadiri Dialog Multikultural di Gedung Pendopo.
Tokoh lintas agama dan pemerintah Kabupaten Garut menghadiri Dialog Multikultural di Gedung Pendopo.

GARUT – Dewan Tahfidzi Kabupaten Persaudaraan Alumni 212 Garut menyelenggarakan kegiatan Dialog Multikultural: Menegakkan Kemanusiaan dan Keluhuran Moral Lintas Iman. Acara berlangsung di Gedung Pendopo, Kecamatan Garut Kota, Selasa (13/10/2026). Dialog Multikultural Garut ini menghadirkan tokoh lintas agama, elemen masyarakat, dan jajaran Pemkab Garut.

Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM Kabupaten Garut, dr. Maskut Farid, menegaskan Pemkab Garut fokus pada pemeliharaan kerukunan dan keharmonisan warga. Menurutnya, pembangunan fisik tidak akan maksimal jika masyarakat tidak merasa aman dan harmonis. “Pemerintah Kabupaten Garut sangat konsen terhadap hal-hal yang menyangkut masalah kerukunan,” ucapnya.

Ia menambahkan sikap radikal dan cara-cara yang dibungkus kekerasan cenderung kontraproduktif. Dialog terbuka dinilai jauh lebih konstruktif dan membawa kebaikan bagi kemajuan daerah. “Diharapkan dengan adanya dialog seperti ini, tercipta kehidupan masyarakat yang damai dan makmur,” lanjutnya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Garut, Hamzah Rukmana, menyampaikan apresiasi tinggi. Ia menekankan Kabupaten Garut merupakan daerah beradab dengan landasan peradaban kuat. Persada 212 Garut lintas iman ini menjadi ruang memperkuat sinergi antara umat beragama, intern umat beragama, dan pemerintah.

Hamzah menjelaskan Garut dapat dikatakan sebagai episentrum kekayaan dan keragaman agama. Selain jumlah umat Islam dan tokohnya yang luar biasa, Garut juga menjadi rumah bagi keberagaman lintas agama dan kepercayaan, seperti Katolik, Kristen, Konghucu, Buddha, hingga Sunda Wiwitan.

“Kami ingin sama-sama memastikan terjadinya kerukunan antar umat beragama, termasuk menjaga budaya, tradisi, dan seni,” lanjutnya. Dialog Multikultural Garut pun menjadi wujud nyata komitmen menjaga harmoni.

Ketua Umum DTK Persada 212 Garut, Aam Moh. Jalaludin, mengajak seluruh kiai, ulama, romo, pendeta, biksu, rohaniawan, dan tokoh adat menyatukan langkah dalam menjunjung nilai kemanusiaan. “Tugas kita sebagai tokoh lintas agama bukan menjadi alat politik praktis. Tugas kita adalah penyejuk, menjadi jangkar moral agar Garut tetap menjadi kota toleran, kota yang aman untuk semua anak-anak,” pungkasnya.

Persada 212 Garut lintas iman membuktikan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah. Dialog Multikultural Garut menjadi benteng moral menghadapi isu SARA dan polarisasi menjelang momentum politik lokal.