Ekonomi

IHSG Dapat Tekanan Ganda, Goldman Sachs Turunkan Rekomendasi Indonesia

×

IHSG Dapat Tekanan Ganda, Goldman Sachs Turunkan Rekomendasi Indonesia

Sebarkan artikel ini
IHSG Memerah
Ilustrasi: IHSG Memerah

Tekanan di pasar saham Indonesia kian memburuk. Setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyoroti risiko investabilitas, kini giliran Goldman Sachs menurunkan rekomendasi saham Indonesia. Langkah ini semakin memperparah sentimen negatif terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Dalam laporan terbarunya, Goldman Sachs resmi menurunkan peringkat pasar saham Indonesia menjadi underweight. Penurunan ini dilakukan menyusul keputusan MSCI yang membekukan pembaruan atau rebalancing sejumlah saham Indonesia dalam produk indeksnya, sebagai upaya meredam risiko yang disebut sebagai investability risk.

Goldman Sachs menilai keputusan MSCI tersebut berpotensi memperpanjang tekanan jual di Bursa Efek Indonesia, terutama dari investor pasif yang mengacu pada indeks global. Bahkan, MSCI juga memperingatkan Indonesia berisiko diturunkan statusnya dari emerging market menjadi frontier market apabila persoalan struktural di pasar modal tidak segera dibenahi.

Senior Equity Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Faras Farhan, menilai tekanan yang terjadi saat ini lebih didorong oleh sentimen dan faktor regulasi ketimbang melemahnya fundamental emiten.

“Pemicu utamanya memang dari pengumuman MSCI. Ditambah lagi, kita melihat tekanan jual yang cukup besar, baik dari investor asing maupun domestik. Ini terlihat dari aktivitas broker asing yang mendominasi penjualan dengan nilai transaksi besar,” ujar Faras dalam diskusi pasar, Selasa.

Menurut Faras, meski porsi investor lokal di pasar saham Indonesia telah meningkat mendekati 48 persen, peran investor asing masih sangat dominan. Sekitar 52 persen kepemilikan pasar masih berada di tangan asing, yang pergerakannya sangat memengaruhi arah IHSG.

“Ketika euforia pasar, asing juga yang mendorong IHSG naik signifikan. Sekarang, saat sentimen berbalik negatif, tekanan jual dari asing kembali menjadi faktor utama,” jelasnya.

Faras menegaskan, secara fundamental banyak perusahaan, termasuk saham-saham blue chip dan perbankan besar, masih memiliki kinerja yang solid. Namun, sentimen kebijakan dan kejelasan regulasi menjadi kunci utama untuk memulihkan kepercayaan investor.

“Masalahnya saat ini bukan lagi di pasar global, tapi bolanya ada di regulator domestik. Kepastian dan perbaikan regulasi akan sangat menentukan apakah tekanan di IHSG bisa segera mereda atau justru berlanjut,” pungkasnya.

Berdasarkam data IDX : COMPOSITE per tanggal 29 Januari 2026 puķl 11.49 WIB, IHSG masih memerah di angka 7.779 meski indeks terus turun naik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *