Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, tepian Situ Gede kembali dipenuhi tawa keluarga. Danau alami di kawasan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya itu berubah menjadi ruang silaturahmi terbuka bagi warga yang menjalankan tradisi munggahan.
Sejak pagi, pengunjung berdatangan membawa tikar, rantang makanan, dan anak-anak yang berlarian di bawah pepohonan rindang. Aroma nasi liwet, ikan goreng, hingga sambal dadak bercampur dengan udara sejuk dan kabut tipis yang menggantung di atas air.
Munggahan bukan sekadar piknik. Bagi masyarakat Sunda, ini adalah momentum membersihkan hati sebelum memasuki bulan puasa. Karena itu, banyak keluarga memilih berkumpul di alam terbuka — dan Situ Gede menawarkan suasana yang pas: tenang, dekat, dan bersahaja.
Indara Permana (33) datang bersama keluarga besarnya dari kawasan kota. Ia mengaku sengaja memilih lokasi ini karena nuansanya terasa hangat.
“Kami rutin munggahan di sini. Lebih dekat, hemat, tapi rasanya lebih bermakna karena suasananya alami,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).
Di tepi danau, beberapa keluarga menggelar botram. Anak-anak memberi makan ikan, sementara orang tua berbincang tentang rencana puasa, sekolah, hingga pekerjaan. Sesekali terdengar adzan dari kejauhan berpadu dengan riak air.
Tak jauh dari tempat duduk pengunjung, deretan warung tradisional tetap sibuk melayani pembeli. Gorengan hangat, es kelapa muda, hingga jajanan khas Sunda menambah warna pertemuan keluarga. Pengunjung juga menyewa perahu kayu, mengitari danau perlahan sambil berfoto.
Keindahan sederhana inilah yang membuat Situ Gede selalu hidup setiap menjelang Ramadan. Bukan sekadar tempat wisata, tetapi ruang ingatan bersama — tempat warga merawat kebersamaan sebelum memasuki bulan penuh ibadah.
Sore hari, satu per satu tikar mulai dilipat. Namun suara canda belum hilang. Munggahan usai, silaturahmi tetap tinggal.







