Internasional

Isu Israel Dikte AS Menguat, Kebijakan Trump Disorot

×

Isu Israel Dikte AS Menguat, Kebijakan Trump Disorot

Sebarkan artikel ini
Benjamin Netanyahu dan Donald Trump
Benjamin Netanyahu dan Donald Trump

WASHINGTON — Isu bahwa Israel mendikte kebijakan luar negeri Amerika Serikat kembali mencuat di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.

Spekulasi ini menguat setelah serangkaian langkah militer Washington dinilai sejalan dengan kepentingan Tel Aviv, khususnya dalam konfrontasi terhadap Iran.

Dalam kurun 13 bulan terakhir, Netanyahu tercatat beberapa kali melakukan kunjungan ke Washington. Intensitas komunikasi tersebut dinilai memperkuat posisi Israel dalam memengaruhi arah kebijakan strategis AS.

Kecurigaan juga datang dari internal AS sendiri. Basis politik Trump mulai mempertanyakan apakah kebijakan luar negeri Washington masih berorientasi pada kepentingan nasional, atau justru mengikuti agenda Israel.

Pernyataan Marco Rubio sebelumnya turut memperkeruh situasi. Ia disebut mengindikasikan bahwa langkah militer terhadap Iran dipicu tekanan dari Israel.

Di sisi lain, serangan terhadap fasilitas energi seperti South Pars dinilai sebagai bagian dari strategi Israel untuk menciptakan ketidakstabilan kawasan. Tujuannya, melemahkan negara-negara regional dan memperkuat dominasi geopolitik Israel di Timur Tengah.

“Strateginya adalah menciptakan kekacauan dan melemahkan negara-negara di kawasan agar tetap terfragmentasi,” ujar seorang analis geopolitik dari Doha Institute for Graduates Studies, Mohamad Elmasry seperti dikutip AL Jazeera.

Dampaknya, lanjut Mohamad Elmasry, negara-negara Teluk seperti Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait berada dalam posisi sulit. Di satu sisi mereka memiliki hubungan keamanan dengan AS, namun di sisi lain berupaya menjaga netralitas.

Iran bahkan melayangkan protes keras melalui jalur diplomatik, menuding negara-negara Teluk terlibat dalam memfasilitasi operasi militer AS—tuduhan yang telah dibantah.

Situasi ini mempertegas potensi konflik berkepanjangan dengan tingkat ketidakpercayaan yang semakin dalam antarnegara di kawasan.

Analis menilai, jika konflik terus berlanjut, Timur Tengah berisiko memasuki fase baru ketegangan geopolitik yang tidak hanya berdampak regional, tetapi juga global, termasuk pada stabilitas energi dan ekonomi dunia.