Internasional

Hubungan Prancis-Israel Retak, Gara-gara Gaza dan Iran

×

Hubungan Prancis-Israel Retak, Gara-gara Gaza dan Iran

Sebarkan artikel ini
MAcron Netanyahu
Hubungan antara Presiden Prancis Emmanuel Macron dan PM Israel Benjamin Netanyahu memburuk tajam pada 2025-2026

PARIS — Hubungan antara Prancis dan Israel kian merenggang dalam setahun terakhir, dipicu perbedaan tajam terkait konflik Gaza, Lebanon, hingga sikap terhadap Iran.

Sejumlah langkah Paris dinilai memperkeruh situasi. Salah satunya adalah keputusan menolak perusahaan pertahanan Israel berpartisipasi dalam berbagai pameran keamanan internasional di Prancis. Kebijakan ini memperdalam ketegangan yang sebelumnya sudah terbangun akibat kritik keras Paris terhadap operasi militer Israel.

Tak hanya itu, insiden terbaru semakin memperjelas retaknya hubungan kedua negara. Pemerintah Prancis dilaporkan menolak akses wilayah udaranya bagi pesawat militer Amerika Serikat yang hendak menuju Israel dalam rangka operasi terkait Iran.

Langkah tersebut langsung memicu reaksi keras dari Tel Aviv. Menteri Pertahanan Israel merespons dengan menghentikan pembelian peralatan militer dari Prancis—sebuah sinyal tegas bahwa kerja sama strategis kedua negara mulai tergerus.

Di balik ketegangan ini, isu pengakuan negara Palestina menjadi salah satu titik krusial. Prancis tetap mendorong solusi dua negara, sementara Israel menilai langkah tersebut menyentuh aspek fundamental keamanan dan eksistensi mereka.

Meski demikian, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Diplomat dari kedua negara mengakui adanya upaya untuk meredakan krisis dengan “meminggirkan sementara” isu Palestina agar kerja sama strategis tetap berjalan.

Bagi Prancis, komunikasi dengan Israel tetap penting, terutama dalam konteks stabilitas Lebanon. Paris berkepentingan mendorong gencatan senjata dan membuka ruang dialog antara Israel dan Lebanon di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Namun analis menilai, perbedaan mendasar terkait Gaza, Lebanon, dan Palestina membuat hubungan kedua negara sulit kembali normal dalam waktu dekat.

Situasi ini mencerminkan realitas baru geopolitik: sekutu lama pun bisa berseberangan ketika kepentingan strategis dan tekanan domestik masing-masing negara semakin menguat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *