Ekonomi

Penunjukan Susi di Bank BJB, Ujian Independensi OJK

51
×

Penunjukan Susi di Bank BJB, Ujian Independensi OJK

Sebarkan artikel ini
KDM Susi
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Susi Pudjiastuti

 

Oleh: Sony Fitrah Perizal, Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Jawa Barat

SAYA suka satu hal dari dunia perbankan: ia dingin. Tidak peduli siapa Anda. Tidak peduli seberapa terkenal nama Anda.

RUPST bank bjb sudah selesai. Nama sudah diputuskan. Susi Pudjiastuti masuk. Kursi Komisaris Utama Independen disiapkan.

Rekomendasinya dari gubernur: Dedi Mulyadi.

Di ruang rapat, semua tampak rapi. Seolah selesai.

Padahal justru baru mulai.

Di dunia bank, keputusan pemegang saham bukan garis akhir. Itu baru pembuka. Bab berikutnya jauh lebih menentukan: meja Otoritas Jasa Keuangan.

Di sana, tidak ada riuh tepuk tangan.

Bank Itu Soal Rasa Takut

Bank hidup dari satu hal: rasa takut.
Takut salah kasih kredit.
Takut salah baca risiko.
Takut salah pilih orang.

Karena itu, OJK tidak bekerja dengan rasa kagum.
Ia bekerja dengan kecurigaan.

Apakah orang ini paham risiko?
Apakah dia bisa mengawasi direksi?
Apakah dia cukup “tajam” membaca angka?

Kalau ragu sedikit saja, bisa berhenti.

Sederhana. Tapi tegas.

Nama Besar Itu Bonus, Bukan Syarat

Kita pernah punya pelajaran. Mardigu Wowiek.
Helmy Yahya.

Dikenal luas. Punya pengaruh. Tapi tidak lolos.

Di OJK, popularitas tidak punya kursi.
Yang ada hanya kelayakan.

Susi: Kuat di Darat, Diuji di Air yang Berbeda

Saya termasuk yang mengakui: Susi Pudjiastuti itu berani.

Ia pernah menenggelamkan kapal.
Ia memimpin kementerian dengan gaya yang tidak biasa.

Tapi bank bukan laut.
Dan komisaris bukan panggung.

Di bank, yang ditanya bukan “berani atau tidak”.

Yang ditanya:
paham tidak soal risiko kredit?
mengerti tidak soal likuiditas?
bisa tidak membaca laporan keuangan dengan cepat dan tepat?

Di sini, keberanian saja tidak cukup.
Harus ada ketepatan.

Kalau bisa menjawab itu semua—selamat.
Kalau tidak, ya berhenti di situ.

Ada Soal Lain: Independensi

Bank tidak suka abu-abu.

Ia ingin hitam-putih.
Jelas. Bersih.

Makanya isu independensi itu sensitif.

Ada nama lain: Eydu Oktain Panjaitan. Masih aktif di BPK.

Ini bukan soal orangnya.
Ini soal posisi.

Kalau pengawas bank punya irisan dengan lembaga audit negara, publik bisa bertanya.

Dan di bank, persepsi itu sama bahayanya dengan fakta.

Gubernur: Langkah Berani atau Terlalu Percaya Diri?

Saya membaca logika Dedi Mulyadi.

Menghadirkan figur kuat.
Figur yang dipercaya publik.

Memang penting.

Tapi bank bukan panggung kepercayaan semata.
Ia mesin yang diatur ketat.

Kalau hanya mengandalkan nama besar, itu sangat berisiko.

Kalau dipadukan dengan kompetensi, itu baru kuat.

OJK: Sunyi Tapi Menentukan

Proses di OJK biasanya tidak ramai.
Tidak ada konferensi pers besar.

Tapi di situlah keputusan sebenarnya dibuat.

Sekitar 30 hari kerja.
Yang diuji bukan citra, tapi isi kepala.

Kalau lolos, artinya memang layak.
Kalau tidak, ya selesai.

Tanpa kompromi.

Publik Jangan Hanya Jadi Penonton

Bank bjb itu milik daerah.
Artinya milik masyarakat Jawa Barat.

Jadi publik berhak tahu.
Bahkan wajib mengawasi.

Jangan berhenti di berita RUPS.

Ikuti prosesnya.
Lihat siapa yang diuji.
Pahami apa yang dipertaruhkan.

Karena kalau salah pilih pengawas, risikonya bukan kecil.

Ini Soal Arah, Bukan Sekadar Nama

Penunjukan Susi Pudjiastuti ini menarik.

Bisa jadi titik balik.
Bisa juga hanya pergantian wajah.

Semua tergantung satu hal:
apakah standar tetap dijaga.

Jawabannya ada di Otoritas Jasa Keuangan.

Dan di sana, satu hal pasti:
tidak ada istilah “hampir layak”.

Hanya ada dua: layak, atau tidak.