Politik dan Pemerintahan

Update ! May Day Bandung Rusuh, Massa Bakar Pos Polisi

11
×

Update ! May Day Bandung Rusuh, Massa Bakar Pos Polisi

Sebarkan artikel ini
Pembakaran

BANDUNG — Aksi peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di depan Gedung DPRD dan jalan Cikapayang Kota Bandung, Jawa Barat rusuh, Jumat malam (1/5/2026).

Ratusan mahasiswa dari berbagai kampus turun ke jalan membawa tuntutan soal kesejahteraan buruh. Massa sempat membakar ban bekas dan sampah di depan gerbang DPRD Jabar.

Beberapa saat kemudian terjadi aksi salong lempar di bawah jalan layang Pasopati. Diikuti oleh ledakan mercon bertubi-tubi.

Saat hari mulai gelap masa semakin tidak terkendali. Sekelompok orang berbaju hitam melakukan tindakan anrkis, bahakan sebuah pos polisi memyala dibakar masa.

Mobil yang melknyas dihentikan orang-orang berbaju hitam.

Aksi yang berlangsung sekitar pukul 17.00 WIB itu juga menyebabkan arus lalu lintas di Jalan Diponegoro tersendat. Polisi bersama petugas Dinas Perhubungan Kota Bandung melakukan pengamanan dan pengaturan kendaraan di sekitar lokasi.

Gerbang DPRD Jawa Barat yang dipasangi kawat berduri dan dikunci rapat menjadi sasaran vandalisme. Massa menempelkan poster dan spanduk berisi tuntutan buruh.

Salah satu peserta aksi dari Universitas Muhammadiyah Bandung, Dika, mengatakan demonstrasi digelar sebagai bentuk solidaritas terhadap perjuangan buruh di Indonesia.

“Perjuangan buruh tidak akan pernah selesai. Setiap tahun selalu ada tuntutan untuk kesejahteraan buruh,” ujarnya.

Dalam aksi tersebut, massa membawa tujuh tuntutan utama. Di antaranya pengesahan Undang-Undang Ketenagakerjaan baru, penghapusan outsourcing dan upah murah, serta penghentian PHK massal.

Selain itu, mereka juga mendesak reformasi pajak, pengesahan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT), pengesahan RUU Perampasan Aset, hingga penurunan potongan aplikasi ojek online menjadi 10 persen.

Dika berharap aspirasi mahasiswa dan buruh tidak sekadar didengar, tetapi benar-benar ditindaklanjuti pemerintah dan legislatif.

“Saya berdiri di sini atas nama bapak saya seorang buruh. Saya harap DPR mendengar suara kami,” pungkasnya.