BERLIN — Hubungan Amerika Serikat dan Uni Eropa memasuki fase paling dingin sejak era Perang Dunia II setelah sejumlah pemimpin Eropa mulai terbuka mengkritik Presiden Donald Trump terkait perang Iran dan arah kebijakan global Washington.
Dalam diskusi politik internasional yang disiarkan media Eropa, koresponden politik Uni Eropa DW Newa, Rosie Burchard menyebut para pemimpin Eropa kini mulai mengambil jarak politik dari Trump setelah sebelumnya berupaya menjaga hubungan dengan pendekatan lunak.
“Selama setahun terakhir, para pemimpin Eropa mencoba berbagai cara untuk mengambil hati Donald Trump demi mendapatkan kepastian politik. Tapi mereka tidak mendapatkannya,” ujar Rosie.
Menurutnya, kritik terbuka terhadap Trump kini juga dipengaruhi tekanan politik domestik di negara-negara Eropa yang mulai resah terhadap arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Pernyataan paling tajam datang dari Kanselir Jerman Friedrich Merz yang menyebut Iran telah “mempermalukan Amerika Serikat” dalam konflik terbaru di Timur Tengah.
Komentar itu langsung memicu kemarahan Trump.
Presiden AS tersebut membalas melalui platform Truth Social dengan menuding Merz tidak memahami ancaman nuklir Iran.
“Jika Iran memiliki senjata nuklir, dunia akan menjadi sandera,” tulis Trump.
Sementara itu, Profesor Studi Amerika di Clinton Institute University College Dublin, Scott Lucas, menilai dunia sedang menyaksikan momen bersejarah karena untuk pertama kalinya sejak akhir 1940-an, hubungan aliansi strategis antara Washington dan Eropa mulai retak secara terbuka.
“Trump dan kelompoknya tidak menginginkan aliansi tradisional. Eropa kini dipaksa membangun pendekatan keamanan sendiri tanpa menempatkan Amerika Serikat sebagai pusat,” ujarnya.
Menurut Lucas, krisis Iran dan perang Ukraina menjadi titik balik yang membuat Eropa sadar tidak bisa lagi sepenuhnya bergantung pada dukungan Washington.
Selain Jerman, sejumlah pemimpin Eropa lain juga mulai menunjukkan perlawanan terbuka terhadap Trump.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, PM Denmark Mette Frederiksen, hingga PM Italia Giorgia Meloni disebut beberapa kali berselisih pandangan dengan Trump dalam isu geopolitik maupun diplomasi internasional.
Rosie Burchard menilai strategi “appeasement” atau pendekatan kompromistis terhadap Trump mulai ditinggalkan Eropa.
Ia mencontohkan perjanjian dagang Uni Eropa-AS yang sebelumnya dianggap merugikan Eropa karena dibuat demi menjaga perlindungan keamanan dari Washington.
Namun kini, menurutnya, Eropa merasa tetap tidak mendapatkan jaminan stabilitas meski telah memberikan banyak konsesi kepada Amerika Serikat.
“Alih-alih merasa lebih aman, situasi justru semakin memburuk,” katanya.








