QUNEITRA – Warga sipil di wilayah selatan Suriah mengaku semakin tertekan setelah Israel memperluas kontrol militernya di sekitar Dataran Tinggi Golan dan wilayah perbatasan pasca runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024.
Seorang petani Suriah bernama Hassan mengaku tidak lagi bisa mengakses lahan zaitunnya yang berada hanya sekitar 400 meter dari lokasi tempatnya bekerja saat ini.
“Itu tanah saya, itu ladang saya. Saya bisa melihatnya, tapi saya tidak bisa mencapainya,” katanya.
Hassan juga mengaku kehilangan putranya yang berusia 16 tahun setelah ditangkap tentara Israel pada April 2024.
Dalam rekaman video yang diambil rekannya, anak Hassan terlihat digiring menuju perbatasan oleh dua tentara Israel. Sejak saat itu, keluarga mengaku tidak pernah lagi mendapat kontak langsung dengannya.
Selain penangkapan tersebut, Hassan menyebut sekitar 400 pohon zaitunnya juga dihancurkan.
“Di mana pun pesawat dan tank mereka mencapai, itu dianggap tanah mereka. Semua negara punya batas, kecuali Israel,” ujarnya.
Sejak jatuhnya pemerintahan Assad, Israel dilaporkan memperluas pendudukan hingga kawasan Jabal Sheikh di sekitar perbatasan Suriah.
Militer Israel juga disebut rutin melakukan patroli, penggerebekan, penangkapan, serta membangun pos pemeriksaan di sejumlah desa sekitar wilayah Quneitra.
Warga lainnya, Bilal Khiyuan, mengaku kesulitan menggembalakan ternaknya setelah akses menuju padang rumput dan sumber air dikuasai pasukan Israel.
“Semuanya dulu baik-baik saja, tapi sekarang mereka mencekik kami,” katanya.
Bilal menyebut produksi susu ternaknya menurun karena kurangnya pakan sehingga ia terpaksa membeli makanan tambahan untuk domba-dombanya.
Sejumlah lahan yang belum diduduki langsung oleh Israel juga dilaporkan terkena penyemprotan herbisida.
Warga mengaku pasukan Israel kerap melakukan patroli dan penahanan terhadap pemuda desa.
Meski demikian, sejumlah warga menegaskan tidak akan meninggalkan kampung halaman mereka di tengah tekanan dan meningkatnya aktivitas militer di kawasan tersebut.








