Suasana hangat dan penuh makna terasa di Gedung Majestic, Jalan Braga, Kota Bandung, Minggu (21/12/2025). Pagelaran budaya bertajuk “Untaian Kasih Ibu” sukses digelar sebagai puncak rangkaian peringatan Hari Ibu oleh Yayasan Mestika Wadjdja Indonesia bekerja sama dengan Perempuan Indonesia Maju (PIM) DPD Jawa Barat.
Beragam pertunjukan seni tradisi ditampilkan dalam acara ini, mulai dari tari daerah, tembang Sunda, hingga konser angklung dari Saung Angklung Udjo. Tak sekadar hiburan, pagelaran ini menjadi ruang refleksi tentang makna kasih ibu, kepedulian sosial, sekaligus kecintaan terhadap budaya bangsa.
Ketua DPD PIM Jawa Barat, Osye Anggandarri, SH, menjelaskan bahwa pagelaran ini merupakan penutup rangkaian kegiatan Hari Ibu yang telah dimulai sejak 13 Desember 2025. Sebelumnya, PIM Jawa Barat juga menggelar kegiatan sosial, seperti kunjungan ke Panti Lansia Tulus Kasih.
“Pagelaran budaya ini memang kami rancang sebagai penutup. Kami ingin menghadirkan seni yang punya benang merah kuat dengan Hari Ibu, tentang kasih, kepedulian, dan penghormatan,” ujar Osye.
Menariknya, di tengah suasana keprihatinan nasional akibat bencana di sejumlah wilayah Sumatra, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan open donasi. Hal tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian sosial dari Perempuan Indonesia Maju kepada sesama.
Nuansa budaya semakin terasa ketika seluruh panitia dan tamu undangan tampil anggun mengenakan kebaya Sunda. Penasehat PIM, DR. Kikit W. Sugata, SH, MH, menilai kegiatan ini sebagai salah satu yang paling kreatif dan berkarakter dibanding daerah lain.
“Dari busananya saja sudah kelihatan kecintaan pada budaya. Ditambah angklung dan seni pertunjukan, ini jadi simbol persatuan, toleransi, dan kebanggaan budaya lokal,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung kebaya yang kini telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, sehingga patut terus dikenalkan kepada generasi muda.
Selain merayakan Hari Ibu, pagelaran ini juga menjadi ajang mengenalkan Gedung Majestic sebagai ruang budaya yang ramah dan terbuka bagi masyarakat. Osye berharap, stigma lama tentang gedung tersebut bisa bergeser menjadi citra baru sebagai pusat kegiatan seni dan budaya.
Sementara itu, Ketua Panitia Yulia Mulyawati, SH, menyebut pagelaran “Untaian Kasih Ibu” dirancang seperti sebuah alur cerita yang mengalir, menggambarkan kasih ibu yang tak pernah putus.
“Kasih ibu itu tidak terbatas. Lewat seni, kami ingin menghadirkan perasaan itu agar bisa dirasakan bersama,” tuturnya.
Pagelaran budaya ini menjadi bukti bahwa seni tradisi tetap relevan, mampu menyatukan empati, cinta budaya, dan solidaritas sosial di tengah kehidupan modern.








