Kota Tasikmalaya mulai menuliskan babak baru dalam perjalanan panjang pelestarian lingkungan.
Di bawah langit pagi yang masih bening, langkah strategis itu ditandai dengan dimulainya pembangunan Pusat Edukasi Arboretum Bambu, sebuah kawasan hijau yang diproyeksikan menjadi simbol harmoni antara manusia dan alam.
Tonggak awal perjalanan ini diawali melalui kegiatan Jumat Menanam yang digelar di Blok Rancamerak, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya Jumat 9 Januaro 2026.
Derap cangkul yang menembus tanah dan bibit yang ditanam menjadi metafora harapan: dari bumi yang dirawat, masa depan hijau akan bertumbuh.
Arboretum bambu ini dirancang bukan sekadar hamparan tanaman, melainkan kawasan konservasi dan pelestarian yang secara khusus mengoleksi beragam jenis bambu.
Kawasan ini diharapkan menjelma menjadi ruang hidup multifungsi pusat penelitian, wahana pendidikan lingkungan, ruang rekreasi alami, sekaligus paru-paru hijau yang menjaga keseimbangan ekosistem serta keberlanjutan sumber mata air di wilayah perkotaan.
Lebih jauh, arboretum bambu diproyeksikan sebagai laboratorium alam dan museum bambu terbuka, tempat pelajar, peneliti, dan masyarakat dapat belajar langsung tentang kekayaan hayati bambu mulai dari karakter biologis, manfaat ekologis, hingga perannya dalam mitigasi bencana dan konservasi tanah.
Program Jumat Menanam menjadi penanda awal pembangunan arboretum bambu di Kota Tasikmalaya.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota Tasikmalaya, sebagai wujud sinergi lintas pemerintahan dalam menjaga warisan ekologis.
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, menegaskan komitmen penuh Pemkot Tasikmalaya dalam mendukung setiap kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang berpihak pada perlindungan dan pemulihan lingkungan.
“Setiap kebijakan provinsi yang berorientasi pada perbaikan dan perlindungan lingkungan tentu kami dukung. Hari ini adalah tahap awal pengenalan lokasi dan penanaman pohon untuk arboretum,” Kata Diky Candra Kepada Wartawan Jumat Siang.
Menurut Diky, kawasan arboretum bambu ini tidak hanya dirancang sebagai ruang terbuka hijau, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata edukasi lingkungan yang dapat diakses masyarakat luas.
“Harapannya, ini menjadi titik wisata edukasi yang memberi manfaat ekologis sekaligus sosial. Ini juga bagian dari upaya mitigasi bencana,” tuturnya.
Pengembangan arboretum bambu di Rancamerak diproyeksikan mencakup lahan seluas sekitar 3 hektare, termasuk keberadaan badan air yang menjadi bagian penting dari ekosistem kawasan.
Pemkot Tasikmalaya pun membuka peluang pengembangan arboretum serupa di wilayah lain, terutama pada lahan-lahan kritis yang membutuhkan sentuhan pemulihan ekologis.
“Ini bukan sekadar tanam seremonial. Harus benar-benar memberi manfaat bagi tanah dan lingkungan. Jika lingkungan pulih, masyarakat pasti ikut merasakan dampaknya,” tegas Diky.
Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VI Jawa Barat, Agung Lukman, menjelaskan bahwa penanaman tahap awal masih bersifat pengenalan lokasi dan simbolis.
“Ini memang baru awalan. Jumlahnya 45 pohon dulu, tetapi ini menjadi pintu masuk pembangunan kawasan bambu atau arboretum di Kota Tasikmalaya,” ujarnya.
Sebanyak 45 pohon ditanam pada tahap awal, terdiri dari beragam jenis tanaman, mulai dari bambu, durian, mahoni, alpukat, hingga mangga. Keanekaragaman ini menjadi fondasi awal ekosistem yang kelak akan terus berkembang.
Pemilihan lokasi Rancamerak, lanjut Agung, telah melalui kajian matang bersama Pemkot Tasikmalaya. Kontur tanah, kondisi lahan, serta potensi lingkungannya dinilai ideal untuk pengembangan kawasan hijau berbasis bambu yang berkelanjutan.
Tak berhenti di Kota Tasikmalaya, pengembangan arboretum bambu juga direncanakan merambah wilayah Kabupaten Tasikmalaya, tepatnya di Kecamatan Salawu, yang selama ini dikenal sebagai sentra perajin bambu.
“Salawu itu sentra pengrajin bambu, jadi sangat relevan. Kalau di kota, kita dorong sebagai pusat edukasi,” jelasnya.
Dalam konsep besar arboretum, Dinas Kehutanan menargetkan penanaman hingga 40 jenis bambu, termasuk varietas non-lokal seperti bambu wayah dan bambu beludru yang berasal dari luar negeri.
Tahap perencanaan arboretum ini ditargetkan rampung pada Februari hingga Maret 2026, dengan komposisi awal minimal 20 jenis bambu yang dipadukan dengan tanaman buah- buahan, sehingga menciptakan lanskap hijau yang estetis sekaligus fungsional.
“Ada yang informasinya berasal dari Cina dan Jepang. Kita naturalisasi untuk kepentingan edukasi, bukan untuk produksi,” pungkas Agung.
Foto: Wakil Wali Kota Tasikmalaya saat melakukan penanaman pohon di Blok Rancamerak, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.








