TEHERAN – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Iran menyebut bahwa rudal balasannya berhasil menembus “jantung pertahanan” Amerika Serikat dengan menyasar sejumlah pangkalan militer AS yang tersebar di kawasan.
Teheran menegaskan, fasilitas militer Amerika Serikat di mana pun berada merupakan target sah, menyusul serangan yang lebih dulu dilakukan Washington bersama Zionis Israel ke wilayah kedaulatan Iran.
Sejumlah pangkalan yang disebut menjadi target antara lain markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Manama, Manama, Bahrain.
Selain itu, Iran juga menyasar Al Udeid Air Base di Qatar, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pangkalan udara terbesar Amerika Serikat di kawasan.
Target lain disebut berada di Al Dhafra Air Base di Uni Emirat Arab, kemudian Ali Al Salem Air Base di Kuwait, serta Prince Sultan Air Base di Arab Saudi.
Di Irak, Iran menyebut turut menargetkan Al-Harir Air Base di Erbil. Sementara di Yordania, pangkalan udara yang disebut sebagai Mufaq Salti Air Base juga masuk dalam daftar sasaran.
Teheran menegaskan, serangan tersebut merupakan hak membela diri sesuai Pasal 51 Piagam PBB. Pernyataan itu ditegaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk mantan Ketua Parlemen yang juga tokoh senior keamanan nasional, Ali Larijani.
Menurut narasi resmi Iran, ketika sebuah negara diserang, maka fasilitas militer milik pihak penyerang di mana pun berada dapat menjadi target sah secara hukum internasional.
Iran juga menyindir negara-negara Arab yang mengecam serangan balasannya, namun dinilai tidak bersuara atas serangan awal Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Sikap tersebut disebut sebagai standar ganda regional.
“Jangan tanyakan mengapa kami menyerang kalian, tapi tanyakan mengapa kalian membiarkan wilayah kalian menjadi tempat penyerangan dilakukan,” demikian pesan yang disampaikan pejabat Iran dalam berbagai pernyataan publik.
Meski menyuarakan kekecewaan terhadap negara-negara Arab yang disebut sebagai “negara sahabat”, Iran menegaskan fokus konfrontasi tetap diarahkan kepada Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang dianggap memulai agresi.
Hingga kini, situasi keamanan di kawasan masih tegang. Belum ada tanda-tanda deeskalasi signifikan, sementara dinamika militer dan diplomatik terus bergerak cepat di tengah sorotan dunia internasional. (Sumber: Youtube Metro TV)








