GAZA — Di tengah puing-puing kehancuran akibat agresi militer Israel, warga Gaza tetap menyambut Hari Raya Idul Fitri dengan penuh keteguhan dan harapan.
Ribuan jemaah berkumpul melaksanakan salat Id di halaman Masjid Al-Omari, salah satu masjid tertua di Kota Tua Gaza yang kini porak-poranda akibat serangan. Tanpa dekorasi dan fasilitas memadai, hanya hamparan puing yang tersisa, namun takbir tetap menggema penuh khidmat.
Di tengah keterbatasan, warga tetap berdiri rapat, menunaikan dua rakaat salat Id dengan penuh kekhusyukan. Halaman masjid yang rusak menjadi satu-satunya ruang yang memungkinkan untuk beribadah, mencerminkan keteguhan iman di tengah situasi yang jauh dari kata ideal.
Usai salat, suasana hangat langsung terasa. Warga saling bersalaman, berpelukan, dan berbagi cerita. Di balik senyum yang tersisa, tersimpan kenangan akan Gaza yang damai sebelum dilanda konflik berkepanjangan.
Namun, duka tak bisa disembunyikan. Di sebuah pemakaman, seorang ibu bernama Umnur Al-Sarshak tak kuasa menahan tangis saat mengenang putranya yang gugur dalam serangan. Isak pilu menjadi potret nyata luka mendalam yang dirasakan banyak keluarga di Gaza.
Agresi yang terjadi tak hanya meruntuhkan bangunan, tetapi juga merenggut rasa aman dan kebahagiaan, terutama bagi anak-anak. Banyak dari mereka kini tumbuh di tengah bayang-bayang trauma dan kehilangan.
Meski demikian, Idul Fitri tetap menjadi simbol harapan. Dalam kesederhanaan dan keterbatasan, warga Gaza berusaha bangkit, menjaga semangat hidup, dan menatap masa depan dengan keyakinan.
Di tengah reruntuhan, takbir tetap berkumandang—menjadi penanda bahwa harapan belum padam, dan kehidupan akan terus berjalan, sekuat apa pun ujian yang menghadang.








