SPIRITS.Id – Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga persatuan serta memperkuat kebersamaan demi mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.
“Mari kita bersama sebagai bangsa Indonesia merapatkan barisan dan merawat persatuan untuk menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Dudung dalam pernyataannya melalui tayangan video yang diterima di Jakarta, Kamis.
Dudung menjelaskan bahwa bangsa Indonesia memiliki perjalanan sejarah yang panjang, yang diwarnai berbagai perjuangan, pengorbanan, serta tantangan yang pernah mengancam keutuhan negara.
Ia menilai Indonesia mampu bertahan dan tetap berdiri kokoh hingga saat ini berkat nilai luhur Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi perekat keberagaman bangsa.
Menurutnya, Indonesia pernah menghadapi berbagai bentuk pemberontakan, seperti PKI, DI/TII, RMS, dan G30S/PKI, termasuk sejumlah gerakan lain yang berupaya mengganggu persatuan nasional.
Selain itu, berbagai konflik komunal serta dinamika sosial dan politik di Papua maupun wilayah lain juga pernah menjadi ujian besar bagi soliditas bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Dudung menegaskan pentingnya sikap bijak dalam menyampaikan pendapat maupun kritik di tengah kehidupan demokrasi yang terus berkembang.
Ia mengatakan pemerintah selalu memberikan ruang kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan kritik sebagai bagian dari praktik demokrasi yang sehat.
“Pemerintah selalu membuka ruang untuk masyarakat menyampaikan pendapat termasuk kritik, karena kritik adalah nafas demokrasi yang harus membangun bukan meruntuhkan,” ujarnya.
Meski demikian, Dudung mengingatkan agar kritik tidak berubah menjadi provokasi, penyebaran fitnah, ataupun upaya mengadu domba yang dapat mengganggu persaudaraan serta mengancam persatuan bangsa.
Ia juga menyampaikan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini sedang berupaya membangun Indonesia yang lebih kuat, berkeadilan, dan bermartabat.
Menurut Dudung, berbagai peristiwa dalam perjalanan sejarah bangsa hendaknya menjadi bahan refleksi untuk mewujudkan Indonesia yang adil, sejahtera, berdaulat, dan bermartabat.
“Rangkaian sejarah Indonesia sampai dengan saat ini hendaknya dapat dijadikan tonggak atau introspeksi untuk menjadi Indonesia yang adil, makmur, berdaulat dan bermartabat,” katanya.




