Internasional

Sudah 51 Pesawat AS Hancur, Iran-AS Kini Bicara Damai

×

Sudah 51 Pesawat AS Hancur, Iran-AS Kini Bicara Damai

Sebarkan artikel ini
Puing Pesawat AS
Puing Pesawat Hercules AS di Gurun Iran

TEHERAN – Setelah lebih dari 100 hari konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran sejak pecah pada 28 Februari 2026, kedua negara disebut semakin dekat menuju kesepakatan damai. Perkembangan diplomatik itu terjadi di tengah klaim kerugian besar yang dialami militer Amerika Serikat selama perang berlangsung.

Berdasarkan berbagai laporan yang beredar selama konflik, sedikitnya 51 pesawat dan helikopter militer Amerika Serikat diklaim hancur akibat serangan Iran maupun dalam operasi militer di kawasan Timur Tengah. Namun angka tersebut belum seluruhnya mendapat verifikasi independen. Beberapa laporan lain mencatat jumlah kerugian yang lebih rendah.

Di antara aset yang dilaporkan hancur yakni empat pesawat tempur F-15E Strike Eagle, satu pesawat siluman F-35 Lightning II, satu pesawat serang A-10 Thunderbolt II, satu pesawat peringatan dini E-3 AWACS, dua pesawat angkut C-130J Super Hercules, serta sejumlah pesawat tanker KC-135 Stratotanker. Selain itu, beberapa helikopter dan drone militer Amerika juga dilaporkan menjadi sasaran serangan Iran.

Di tengah berlanjutnya konflik, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa Teheran dan Washington telah menyusun rancangan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang terdiri atas 14 poin sebagai dasar menuju perjanjian final.

Menurut Araghchi, rancangan tersebut mencakup penghentian perang di berbagai front konflik, termasuk Lebanon, pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade Amerika Serikat terhadap Iran, mekanisme pelepasan aset Iran yang dibekukan, serta komitmen kedua pihak untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing. Adapun isu program nuklir Iran dan sanksi ekonomi akan dibahas pada tahap berikutnya.

Sementara itu, sejumlah laporan media internasional menyebut Washington dan Teheran semakin dekat menuju kesepakatan damai, meski masih terdapat perbedaan pandangan terkait waktu penandatanganan dan substansi akhir perjanjian.

Jika kesepakatan tersebut tercapai, maka perang yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan dan mengguncang kawasan Timur Tengah itu berpotensi memasuki fase baru melalui jalur diplomasi setelah sebelumnya diwarnai serangan udara, perang drone, dan ketegangan di Selat Hormuz.