Internasional

Trump Diserang Pendukung Sendiri Gara-gara Deal Iran

×

Trump Diserang Pendukung Sendiri Gara-gara Deal Iran

Sebarkan artikel ini
Donald Trump
Presiden AS Donald Trump

WASHINGTON – Kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang memicu gelombang kritik di dalam negeri Amerika. Sejumlah pendukung dan sekutu politik Presiden Donald Trump menilai perjanjian tersebut lebih banyak menguntungkan Teheran dibanding Washington.

Reaksi keras mulai bermunculan setelah rincian nota kesepahaman (MoU) 14 poin antara kedua negara beredar di media. Banyak kalangan konservatif mempertanyakan alasan Trump menyetujui kesepakatan yang dinilai hanya memperoleh janji lama Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

“Sejumlah pendukung Trump menganggap ini sebagai kekalahan Amerika Serikat,” demikian analisis yang disampaikan dalam laporan terbaru mengenai respons politik di Washington.

Kritik tersebut muncul karena sejumlah tujuan utama yang diumumkan Trump saat perang dimulai pada 28 Februari lalu belum terlihat tercapai.

Saat itu, Trump menyebut perubahan rezim di Iran sebagai salah satu target strategis Washington. Ia juga mendorong rakyat Iran untuk bangkit dan mengambil alih pemerintahan dari para pemimpin yang berkuasa.

Namun hingga perang berakhir, struktur kekuasaan utama di Teheran tetap bertahan.

Selain itu, isu penghentian dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok proksi di Timur Tengah serta program rudal balistik Teheran juga belum masuk dalam poin-poin utama kesepakatan awal.

Meski demikian, Gedung Putih berargumen bahwa pembahasan mengenai program rudal dan aktivitas regional Iran akan dilakukan dalam tahap negosiasi berikutnya. Fokus utama saat ini adalah memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.

Di sisi lain, kesepakatan tersebut justru membuka peluang pencairan sejumlah aset Iran yang selama ini dibekukan serta pelonggaran pembatasan ekspor minyak Iran.

Poin lain yang turut menjadi sorotan adalah pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz. Berdasarkan kesepakatan awal, jalur pelayaran strategis tersebut akan bebas biaya selama 60 hari pertama.

Namun pemerintah Iran disebut tengah membahas kemungkinan penerapan biaya layanan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz bersama pemerintah Oman. Langkah itu berpotensi meningkatkan biaya pengiriman energi dan barang di jalur perdagangan paling penting di dunia tersebut.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio bahkan disebut menilai kebijakan tersebut tidak dapat diterima.

Meski menghadapi kritik, Trump tetap mempertahankan kesepakatan tersebut. Ia menilai perang yang berakhir akan memberikan dampak positif bagi perekonomian Amerika Serikat.

Trump menunjuk penguatan pasar saham dan turunnya harga minyak dunia sebagai bukti bahwa penghentian konflik membawa manfaat ekonomi yang nyata.

Namun argumen itu juga menuai penolakan. Sejumlah kalangan Republik menilai alasan ekonomi tidak seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam konflik yang sejak awal diklaim menyangkut ancaman keamanan nasional Amerika Serikat dan stabilitas Timur Tengah.

Perdebatan di Washington diperkirakan akan semakin menguat menjelang dimulainya negosiasi lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran dalam 60 hari ke depan. Hasil perundingan tersebut akan menentukan apakah kesepakatan damai benar-benar tercapai atau justru membuka babak baru ketegangan di kawasan.