BANDUNG – Anda tahu? Piala Dunia yang sekarang bikin macet Jakarta itu dulu lahirnya susah payah. Sangat susah.
Tahun 1930. Dunia sedang sakit. Krisis ekonomi 1929 bikin dompet semua negara bolong. Di tengah paceklik itulah Uruguay nekat. Mereka bilang ke FIFA: kami siap jadi tuan rumah Piala Dunia pertama. Biaya? Kami tanggung. Hotel peserta? Kami bayar. Untung? Kita bagi.
Tawaran gila. FIFA yang baru 26 tahun berdiri langsung mengiyakan. Kongres di Barcelona, 18 Mei 1929, ketok palu. Uruguay menang. Argentina, Belanda, Italia, Spanyol, Swedia gigit jari.
Kenapa Uruguay? Dua alasan. Pertama, mereka juara Olimpiade 1924 Paris dan 1928 Amsterdam. Saat itu Olimpiade adalah Piala Dunia-nya sepak bola. Kedua, Uruguay mau pesta. Tahun 1930 pas 100 tahun konstitusi pertama mereka. Sekalian hajatan.
Masalahnya cuma satu: Eropa malas datang. Naik kapal ke Montevideo perlu 2 minggu. Pulang 2 minggu. Total sebulan hilang. Klub-klub Eropa ngamuk. Pemain itu aset. Krisis pula. Ongkos siapa yang nanggung?
FIFA kirim undangan Februari 1930. Sampai Juni, baru 4 negara Eropa mendaftar: Prancis, Belgia, Yugoslavia, Rumania. Itupun setelah Jules Rimet, Presiden FIFA, turun tangan melobi. Mereka naik kapal yang sama, SS Conte Verde, dari Prancis. Di tengah jalan mampir Rio de Janeiro jemput Brasil. Kapal itu jadi bahtera Nabi Nuh versi sepak bola.
Total hanya 13 tim. Bandingkan dengan 2026 nanti: 48 tim. Dulu tanpa kualifikasi. Siapa mau, silakan datang. Inggris? Tidak sudi. Mereka lagi ngambek, keluar dari FIFA sejak 1928.
Stadion? Uruguay janji bangun Estadio Centenario. Kapasitas 90 ribu. Untuk ukuran 1930, itu raksasa. Sial, hujan turun terus. Proyek telat 5 hari. Laga pembuka Prancis lawan Meksiko, 13 Juli 1930, terpaksa pindah ke Stadion Pocitos. Yang kecil. Di situlah Lucien Laurent cetak gol pertama Piala Dunia. Menit 19. Sejarah.
Format turnamen juga aneh. 13 tim dibagi 4 grup. Grup 1 isi 4 tim, sisanya 3 tim. Juara grup langsung semifinal. Tidak ada perebutan juara 3. Praktis.
Finalnya 30 Juli 1930. Uruguay lawan Argentina. Derby La Plata. Musuh bebuyutan. Centenario penuh. 93.000 orang. Polisi sampai turun tangan. Wasitnya, John Langenus dari Belgia, minta jaminan. Ia takut tidak pulang dengan selamat. Mau pimpin final tapi nyawa taruhannya.
Yang lucu, dua tim tidak sepakat pakai bola yang mana. Solusinya ala kadarnya: babak pertama pakai bola Argentina, babak kedua pakai bola Uruguay. Skor akhir 4-2 untuk tuan rumah. Uruguay juara dunia pertama. Pestanya tumpah. Hari libur nasional besoknya.
Ada kisah-kisah kecil yang tak kalah hebat. Hector Castro, pencetak gol keempat Uruguay di final, hanya punya satu tangan. Tangan kanannya putus kena gergaji listrik umur 13 tahun. Ia dijuluki El Manco, Si Buntung. Tapi tendangannya kencang.
Hattrick pertama? Bert Patenaude, Amerika Serikat, lawan Paraguay. FIFA baru mengakuinya tahun 2006. Telat 76 tahun.
Satu lagi. Ulises Saucedo dari Bolivia itu wasit merangkap pelatih. Ia memimpin satu laga, lalu melatih negaranya di laga lain. Rangkap jabatan yang sekarang pasti dipecat.
Begitulah. Piala Dunia lahir dari kenekatan sebuah negara kecil. Dari turnamen yang diremehkan Eropa. Dari stadion yang belum jadi. Dari bola yang gantian.
Sekarang Centenario masih ada. Tua, tapi gagah. Ia jadi saksi. Bahwa hal-hal besar sering dimulai dari hal yang dikira mustahil.
Anda masih meremehkan ide gila? Ingat Uruguay 1930.




