Peristiwa

192 Warga Garut Ditempa Jadi Penjahit Upper Sepatu Pabrik

×

192 Warga Garut Ditempa Jadi Penjahit Upper Sepatu Pabrik

Sebarkan artikel ini
Pelatihan
Disnakertrans Garut buka pelatihan 192 penjahit upper sepatu. Gandeng BBPVP Bandung dan 3 pabrik besar.

GARUT – Disnakertrans Garut resmi buka Pelatihan Tailor Made Training TMT Penjahit Upper Sepatu. Kegiatan digelar di UPTD BLK Garut, Samarang, Selasa 7/7/2026.

Disnakertrans Garut menggandeng BBPVP Bandung dan tiga industri besar. Program ini berbasis kompetensi untuk menjawab kebutuhan pabrik alas kaki di Garut.

Disnakertrans Garut menargetkan 192 peserta siap kerja. Pelatihan ini diharapkan menekan pengangguran dan mempercepat penyerapan tenaga kerja lokal.

Disnakertrans Garut menyebut Garut punya 3 pabrik besar. Di antaranya PT Chang Shin Reksa Jaya, PT Pratama Abadi Industri, dan PT Ultimate Noble Indonesia.

Kepala Disnakertrans Garut Nia Gania Karyana mengatakan program ini terwujud berkat sinergi Pemkab Garut, Kemenaker RI, BBPVP Bandung, dan BLK Garut.

“Kami berharap kepada 192 peserta pelatihan upper sepatu dapat menguasai teknik dasar menjahit dengan sangat baik, sehingga mereka mampu langsung bekerja di pabrik dan berkompetensi di bidangnya,” ujar Nia Gania.

Kepala BBPVP Bandung Reni Rosyida menegaskan TMT mengemban misi mengurai masalah ketenagakerjaan. Program ini juga untuk menciptakan lapangan kerja baru berkelanjutan.

“Terima kasih kepada Kepala BLK yang sudah membantu kami mempertemukan dengan industri. Mudah-mudahan pelatihan ini bisa bertambah pesertanya setiap tahun guna membantu dunia industri menyiapkan tenaga kerja siap kerja,” jelas Reni.

Reni membeberkan batch kali ini berisi 12 paket pelatihan dengan total 192 orang. Ia mengapresiasi BLK Garut yang sukses menjembatani pendidikan vokasi dengan sektor industri.

Apresiasi juga datang dari industri. Senior Manager PT Chang Shin Reksa Jaya Garut Mia Resmiati menyebut program ini membuka pintu kesejahteraan baru bagi masyarakat.

“Dengan adanya program ini, peserta pelatihan menjadi menghimpun harapan baru untuk bisa bekerja,” ungkap Mia.

Mia berpesan peserta tak hanya menguasai hard skill. Industri manufaktur saat ini juga butuh soft skill seperti attitude, etos kerja, dan kedisiplinan tinggi.

“Kami berharap adik-adik semua dapat mengikuti pelatihan ini dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Bukan hanya diberi hard skill, namun lebih dari itu menjadi pembekalan soft skill saat memasuki dunia kerja nanti,” pungkasnya.

Disnakertrans Garut berharap lulusan pelatihan langsung terserap industri. Dengan begitu, Garut bisa menjadi lumbung tenaga kerja siap pakai sektor manufaktur alas kaki.