NEW JERSEY – Sebuah paradoks statistik terjadi dalam Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina. Kiper Argentina, Emiliano Martinez, tampil heroik dengan mencatatkan 11 penyelamatan, jumlah terbanyak yang pernah dicatat seorang kiper dalam satu laga final sejak data dikumpulkan pada 1966. Namun, upaya luar biasa itu tidak cukup membendung gol tunggal Ferran Torres di menit ke-106 babak perpanjangan waktu.
Fakta lebih mengejutkan terungkap dari sisi serangan La Albiceleste. Argentina tercatat tidak melepaskan satu pun tembakan sepanjang 90 menit waktu normal. Ini merupakan catatan pertama dalam sejarah final Piala Dunia di mana salah satu finalis nihil peluang tembakan di babak regulasi. Tembakan pertama Argentina baru tercipta melalui Lionel Messi pada menit ke-117, jauh setelah Spanyol unggul.
Kegagalan Argentina menciptakan peluang ini berbanding lurus dengan dominasi penguasaan bola Spanyol yang dikendalikan Rodri. Meskipun Martinez meraih Golden Glove berkat tujuh clean sheet sepanjang turnamen, ketangguhannya di final harus tunduk pada efisiensi Spanyol yang memanfaatkan keunggulan jumlah pemain usai kartu merah Enzo Fernandez.
Statistik ini menegaskan bahwa pertahanan solid Spanyol, yang hanya kebobolan satu gol sepanjang delapan pertandingan, adalah yang terbaik dalam sejarah tim juara Piala Dunia. Sementara bagi Martinez, rekor 11 penyelamatan menjadi penghibur pahit di tengah mimpi buruk gagal mempertahankan gelar juara dunia untuk Argentina.




