TASIKMALAYA – Ketegangan yang menyelimuti keluarga di Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, akhirnya berakhir lega. Tiga remaja putri berstatus pelajar SMP yang sempat meninggalkan rumah dan tidak pulang sejak Senin (20/7/2026) sore, berhasil ditemukan dalam keadaan selamat.
Penemuan ini merupakan hasil dari kerja cepat dan sinergis antara Polresta Tasikmalaya Kota, TNI, pemerintah desa, serta kepedulian tinggi masyarakat setempat yang tidak kenal lelah membantu proses pencarian hingga tuntas.
Kronologi bermula ketika keluarga melaporkan hilangnya ketiga remaja putri tersebut ke Polsek Mangkubumi pada Selasa (21/7/2026). Menindaklanjuti laporan itu, jajaran kepolisian segera mengerahkan personel Bhabinkamtibmas dan Unit Reskrim, berkolaborasi dengan Babinsa Koramil Kawalu.
Informasi awal yang dihimpun dari berbagai sumber, termasuk jejak digital di media sosial dan keterangan warga, mengarahkan tim gabungan ke wilayah Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya. Koordinasi lintas wilayah ini menjadi kunci utama dalam mempersempit area pencarian yang cukup luas.
Usaha keras tim gabungan mulai membuahkan hasil pada Selasa malam, sekitar pukul 23.44 WIB. Dua dari tiga remaja putri yang dicari berhasil ditemukan di Kampung Galeong, Desa Nangerak, Kecamatan Cigalontang. Keduanya langsung diamankan dan dipulangkan ke pangkuan keluarga masing-masing.
Namun, pencarian belum dinyatakan selesai karena satu orang masih belum ditemukan. Tim terus melakukan penyisiran intensif hingga akhirnya, pada Rabu (22/7/2026) pukul 18.09 WIB, remaja putri terakhir ditemukan di Kampung Gedugan, Kecamatan Cigalontang, dalam kondisi sehat walafiat.
Kapolsek Mangkubumi, Iptu Ipan Faisal, mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan operasi pencarian ini. Ia menekankan bahwa temuan ini adalah bukti nyata kekuatan kolaborasi antara unsur keamanan, pemerintahan, dan masyarakat. “Alhamdulillah, berkat kerja sama semua pihak, ketiga remaja berhasil ditemukan dalam keadaan selamat,” ujarnya.
Iptu Ipan juga mengimbau para orang tua untuk lebih meningkatkan pengawasan dan membangun komunikasi yang terbuka dengan anak-anak mereka. Hal ini dinilai krusial untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa depan, mengingat masa remaja adalah fase pencarian jati diri yang rentan terhadap pengaruh lingkungan luar.




