BANDUNG – Pemerintah Kabupaten Bandung memanfaatkan musim kemarau untuk mempercepat normalisasi Sungai Cikeruh melalui program pentahelix sebagai upaya mengurangi risiko banjir di Kecamatan Bojongsoang, Rancaekek, Solokanjeruk, Majalaya, dan wilayah rawan lainnya.
Bupati Bandung Dadang Supriatna meninjau langsung pelaksanaan normalisasi Sungai Cikeruh di Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Jumat (7/8/2026). Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR), TNI, Polri, pemerintah desa, masyarakat, serta dukungan Anggota DPR RI Asep Romy Romaya.
Dalam kegiatan itu, tiga unit alat berat jenis backhoe dan sejumlah truk dikerahkan untuk mengeruk endapan sedimentasi yang selama ini menghambat aliran Sungai Cikeruh dan menjadi salah satu penyebab banjir di kawasan Tegalluar dan sekitarnya.
Bupati Dadang Supriatna mengatakan, sedimentasi di Sungai Cikeruh maupun Sungai Citarum telah mencapai sekitar 10 juta meter kubik sehingga membutuhkan penanganan secara bertahap dan berkelanjutan.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada BBWS Citarum dan DPUTR Kabupaten Bandung yang terus mengawal program pentahelix ini. Walaupun anggaran terbatas, kami berharap pengerukan sedimentasi bisa terus ditingkatkan agar penanganan banjir lebih cepat selesai,” ujarnya.
Menurut Dadang, keterbatasan anggaran membuat penanganan harus dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Ia menjelaskan, program pentahelix kini telah berjalan di 12 kecamatan sebagai bagian dari strategi jangka panjang pengendalian banjir di Kabupaten Bandung.
Selain pengerukan sungai, Pemkab Bandung juga menyiapkan pembangunan dua danau retensi di Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, dan Desa Sukamanah, Kecamatan Rancaekek.
Pembangunan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas tampung air sekaligus mendukung program ketahanan pangan melalui sinergi dengan pemerintah pusat. Detail Engineering Design (DED) proyek tersebut telah disusun oleh BBWS Citarum.
Dadang juga mengajak dunia usaha untuk ikut berpartisipasi dalam program pentahelix karena dampak banjir tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga sektor industri.
“Kalau terjadi banjir, perusahaan juga mengalami kerugian karena aktivitas terganggu, termasuk keterlambatan karyawan masuk kerja. Karena itu kami mengajak seluruh pelaku usaha ikut berpartisipasi menyelesaikan persoalan banjir secara bersama-sama,” katanya.
Ia menambahkan, setelah penanganan di Sungai Cikeruh, normalisasi juga akan dilanjutkan di sejumlah titik lain yang memiliki tingkat sedimentasi tinggi, termasuk kawasan Solokanjeruk, Majalaya, dan Dayeuhkolot.
Sementara itu, Kepala Desa Tegalluar Galih Hendrawan menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, normalisasi Sungai Cikeruh menjadi kebutuhan mendesak karena wilayah Tegalluar merupakan pertemuan sejumlah aliran sungai, yakni Sungai Cikeruh, Citarum, Citarik, dan Cipamokolan.
“Endapan sedimentasi yang tinggi selama ini menjadi salah satu penyebab banjir di Desa Tegalluar. Program pentahelix ini sangat membantu dan menjadi harapan masyarakat agar persoalan banjir dapat ditangani secara bertahap,” ujarnya.
Pemkab Bandung berharap percepatan normalisasi sungai selama musim kemarau mampu mengurangi risiko banjir saat musim penghujan tiba sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.








