Olahraga

Pramusim Liverpool: Krisis Stamina, Lini Belakang Rapuh

×

Pramusim Liverpool: Krisis Stamina, Lini Belakang Rapuh

Sebarkan artikel ini
Pelatih Liverpool Andoni Iraola terlihat memberikan instruksi intens kepada para pemain
Andoni Iraola memantau ketat sesi pertandingan pra musim skuad Liverpool. Pelatih asal Spanyol ini tengah berupaya mengatasi krisis stamina dan kerapuhan lini belakang yang terungkap selama laga uji coba pramusim, menjelang pembukaan Premier League melawan Newcastle United pada akhir Agustus 2026.

LIVERPOOL – Euforia awal era Liverpool di bawah Andoni Iraola mulai meredup setelah dua kekalahan beruntun dalam laga uji coba pramusim. Meskipun mengawali dengan kemenangan atas Sunderland (4-2) dan Wrexham (1-0), The Reds menunjukkan tanda bahaya serius terkait ketahanan fisik. Skema high pressing intensitas tinggi ala Iraola terbukti menguras energi pemain senior dan pilar timnas yang baru kembali dari Piala Dunia.

Energinya habis hanya dalam 30 menit pertama, membuat lini pertahanan menjadi sasaran empuk lawan di babak kedua saat stamina terkikis drastis.

Kekalahan telak 2-4 dari Leeds United dan 2-3 dari AS Monaco di Anfield menjadi alarm keras bagi manajemen Liverpool. Ironisnya, duo rekrutmen mahal Alexander Isak dan Florian Wirtz justru tampil cemerlang dengan chemistry yang solid di lini serang, bahkan sempat membawa tim unggul 2-0 melawan Monaco. Namun, keunggulan itu lenyap seketika akibat koordinasi belakang yang keropos.

Cedera yang menimpa Joe Gomez, Conor Bradley, dan Jérémy Jacquet memperparah situasi, memaksa Iraola mencari solusi darurat demi menutupi kebocoran defensif yang kian menganga menjelang kompetisi resmi dimulai.

Sebagai respons cepat, Liverpool dilaporkan tengah merampungkan kesepakatan peminjaman bek Barcelona, Ronald Araújo, untuk menambal lubang di lini belakang. Langkah ini diambil karena Iraola menyadari bahwa talenta individu saja tidak cukup tanpa fondasi fisik yang memadai. Pelatih asal Spanyol itu kini mengalihkan fokus skuad sepenuhnya pada menu latihan fisik berat.

Tujuannya jelas: membangun mesin stamina yang mampu bertahan 90 menit penuh tanpa mengalami penurunan performa fatal seperti yang terjadi dalam dua laga terakhir melawan Leeds dan Monaco.

Ujian sesungguhnya bagi transformasi Liverpool akan datang pada partai pembuka Premier League melawan Newcastle United akhir Agustus nanti. Waktu tinggal sedikit untuk memperbaiki defisit kebugaran dan integrasi lini belakang yang masih belum kompak. Jika krisis stamina ini tidak segera diatasi, ambisi meraih trofi bisa kandas di tengah jalan meski lini serang sudah menemukan formula jitu.

Pra-musim seharusnya menjadi laboratorium perbaikan, bukan pameran kerapuhan. Iraola harus membuktikan bahwa metode fisiknya bukan sekadar teori, melainkan fondasi nyata bagi dominasi jangka panjang di Anfield.