Internasional

Israel-Turki Makin Tegang, Suriah Berpotensi Jadi Medan Konfrontasi

×

Israel-Turki Makin Tegang, Suriah Berpotensi Jadi Medan Konfrontasi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi ketegangan militer Israel dan Turki di tengah perebutan pengaruh strategis di Suriah.
Ilustrasi ketegangan militer Israel dan Turki di tengah perebutan pengaruh strategis di Suriah.

ANKARA – Hubungan Israel dan Turki memasuki fase yang semakin tegang seiring meningkatnya perebutan pengaruh kedua negara di Suriah pascaruntuhnya rezim Bashar al-Assad.

Ketegangan tersebut tidak lagi sebatas perang pernyataan diplomatik. Aktivitas militer kedua negara di wilayah Suriah meningkatkan risiko terjadinya konfrontasi langsung, terutama apabila masing-masing pihak memperluas kehadiran militernya di kawasan strategis tersebut.

Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah pangkalan udara Abu al-Duhur di Idlib. Israel disebut melakukan serangan udara terhadap fasilitas tersebut untuk mencegah penempatan pasukan maupun infrastruktur militer Turki di Suriah.

Ankara sendiri terus memperkuat pengaruh militernya di Suriah. Turki disebut melakukan rehabilitasi sejumlah pangkalan udara, termasuk Abu al-Duhur dan pangkalan T4 di Homs. Langkah tersebut dikabarkan mencakup pengiriman personel militer, alat berat serta persiapan fasilitas untuk mendukung operasi pesawat tempur dan drone.

Turki juga tengah memperkuat kemampuan pertahanan udaranya. Sistem seperti SIPER dan HISAR serta radar canggih menjadi bagian dari upaya Ankara membangun lapisan pertahanan udara yang lebih kuat.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian serius Israel. Penempatan sistem pertahanan udara Turki di Suriah berpotensi membatasi ruang gerak pesawat tempur Israel dalam melakukan pemantauan maupun operasi militer di kawasan.

Ankara juga mempercepat pengembangan proyek pertahanan udara Steel Dome dan mendorong kerja sama dengan Prancis melalui program SAMP/T.

Di sektor maritim, Turki memiliki keunggulan jumlah armada di kawasan Mediterania Timur. Penguatan angkatan laut tersebut juga berkaitan dengan kepentingan Ankara mengamankan kepentingan strategis dan energi di kawasan.

Sementara itu, Israel mulai menyesuaikan strategi pertahanannya dengan munculnya Turki sebagai kekuatan regional yang semakin aktif.

Israel disebut menerapkan pendekatan serangan dini untuk menghancurkan fasilitas militer strategis sebelum dapat digunakan secara optimal. Infrastruktur seperti landasan pacu, fasilitas bahan bakar dan radar menjadi sasaran potensial.

Tel Aviv juga memperkuat zona keamanan di sepanjang perbatasan dengan Suriah. Langkah tersebut bertujuan mencegah perluasan pengaruh kelompok atau pasukan yang memiliki kedekatan dengan Turki menuju wilayah selatan Suriah.

Kebutuhan memperkuat kemampuan militer Israel juga semakin besar setelah konflik berkepanjangan di sejumlah front menguras persediaan amunisi dan sumber daya pertahanan.

Dalam kondisi tersebut, muncul kekhawatiran bahwa Suriah dapat berubah menjadi arena persaingan langsung antara dua kekuatan militer regional.

Namun, perang terbuka antara Israel dan Turki belum menjadi keniscayaan. Kedua negara memiliki kepentingan strategis yang berbeda, sementara Amerika Serikat dan sekutu NATO memiliki kepentingan besar untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.

Risiko terbesar justru berada pada salah kalkulasi. Insiden yang menewaskan personel militer Turki akibat serangan Israel, misalnya, berpotensi memicu respons Ankara yang lebih keras.

Karena itu, perkembangan militer di Suriah menjadi indikator penting bagi stabilitas Timur Tengah. Semakin besar kehadiran militer kedua negara, semakin sempit pula ruang untuk mencegah sebuah insiden berubah menjadi eskalasi yang sulit dikendalikan.