Daerah

DLH KBB Perketat Pantauan Udara Antisipasi Dampak Debu Vulkanik

×

DLH KBB Perketat Pantauan Udara Antisipasi Dampak Debu Vulkanik

Sebarkan artikel ini
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH KBB, Gentarez Wara Nainggolan
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH KBB, Gentarez Wara Nainggolan

BANDUNG BARAT – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat memperketat pemantauan kualitas udara menyusul meningkatnya konsentrasi partikulat PM2,5 dan PM10 serta laporan warga mengenai paparan debu di sejumlah wilayah.

Debu tersebut diduga berkaitan dengan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau. Namun, DLH KBB menegaskan dugaan tersebut belum dapat dipastikan tanpa pengujian laboratorium.

Pemantauan kualitas udara dilakukan secara real-time melalui Air Quality Monitoring System (AQMS) yang berada di Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Bandung Barat.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH KBB, Gentarez Wara Nainggolan, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi PM2,5 dan PM10.

Meski mengalami kenaikan, kondisi kualitas udara hingga Senin (7/9/2026) masih berada dalam kategori baik berdasarkan parameter pemantauan yang digunakan.

“Berdasarkan pemantauan, memang ada peningkatan konsentrasi partikulat PM2,5 dan PM10. Namun sampai saat ini kualitas udara masih berada dalam kategori baik,” ujar Genta.

Hingga pukul 11.00 WIB, konsentrasi PM2,5 tercatat sekitar 40 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut masih berada dalam kategori baik menurut parameter yang digunakan DLH KBB.

Asal Debu Masih Diteliti

DLH KBB tetap memperketat pengawasan meski kualitas udara masih dalam kategori baik. Peningkatan konsentrasi partikulat dinilai perlu dipantau untuk mengantisipasi perubahan kondisi secara signifikan.

Peningkatan yang tercatat melalui AQMS juga sejalan dengan laporan masyarakat di sejumlah wilayah Bandung Barat. Warga melaporkan adanya debu yang menempel di halaman rumah dan berbagai permukaan lainnya.

Secara visual, debu tersebut terlihat berwarna cokelat muda hingga keabu-abuan. Namun, DLH KBB menegaskan karakteristik visual tersebut belum cukup untuk menentukan sumber partikulat.

“Untuk memastikan apakah partikulat tersebut benar-benar berasal dari abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, tentu masih diperlukan pengujian laboratorium,” jelas Genta.

Karena itu, DLH memilih tidak menarik kesimpulan hanya berdasarkan warna debu maupun laporan masyarakat. Pengujian ilmiah diperlukan untuk mengetahui kandungan dan karakteristik partikulat secara lebih pasti.

AQMS Pantau Sejumlah Parameter

Pemantauan melalui AQMS terus dilakukan secara berkala. Selain PM2,5 dan PM10, sistem tersebut memantau sejumlah parameter kualitas udara lainnya, seperti sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), ozon (O3), nitrogen dioksida (NO2) dan hidrokarbon (HC).

DLH KBB memastikan hasil pemantauan menjadi dasar penyampaian informasi kepada masyarakat agar kondisi kualitas udara dapat diketahui berdasarkan data.

Meski kualitas udara masih tergolong baik, peningkatan konsentrasi partikulat menjadi sinyal kewaspadaan. Pemantauan akan terus diperketat hingga karakteristik dan sumber debu yang ditemukan di masyarakat dapat dipastikan secara ilmiah.