Politik dan Pemerintahan

Perkuat Pendidikan Karakter, Hilman Dorong Sekolah dan Orang Tua Cegah Pelajar Terjerumus Kekerasan

×

Perkuat Pendidikan Karakter, Hilman Dorong Sekolah dan Orang Tua Cegah Pelajar Terjerumus Kekerasan

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya Hilman Wiranata mendorong penguatan pendidikan karakter bagi pelajar.
Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya Hilman Wiranata mendorong penguatan pendidikan karakter bagi pelajar.

TASIKMALAYA — Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya Hilman Wiranata mendorong sekolah, orang tua, dan lingkungan masyarakat memperkuat pendidikan karakter sebagai bagian dari upaya mencegah pelajar terlibat kelompok jalanan yang berujung pada kekerasan maupun pelanggaran hukum.

Menurut Hilman, pendidikan tidak semestinya hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Sekolah juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter anak agar mampu memahami tanggung jawab, menghargai orang lain, menjaga diri, serta mengambil keputusan yang tepat dalam pergaulan.

Hal tersebut disampaikan Hilman menyikapi masih adanya pelajar yang terlibat dalam aktivitas kelompok jalanan. Ia menilai persoalan tersebut perlu dicegah sejak dini karena sebagian anak yang terlibat masih berada pada usia sekolah, baik tingkat SMP maupun SMA.

“Yang paling besar anggota geng motor itu adalah anggota dari pelajar SMP dan SMA. Mereka secara personal pasti memiliki ketakutan oleh sekolah, oleh gurunya masing-masing,” kata Hilman, Minggu (20/9/2026).

Sekolah Diminta Perkuat Pembinaan

Hilman mendorong sekolah dan guru kembali memperkuat pendidikan karakter melalui pembinaan yang dilakukan secara konsisten.

Menurutnya, aturan sekolah tetap diperlukan sebagai bagian dari pembentukan kedisiplinan. Namun, penerapan aturan perlu disertai penghargaan dan sanksi yang bersifat mendidik.

Ia menilai keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai rapor, kenaikan kelas, maupun kelulusan. Anak juga perlu mendapatkan bekal berupa kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian, serta kemampuan membedakan tindakan yang baik dan berisiko merugikan diri sendiri maupun orang lain.

“Sekolah kita itu sudah kehilangan, bukan lagi menjadi ajang pendidikan baik secara edukatif maupun secara mental. Hari ini sekolah kita sudah menjadi pabrik,” ujarnya.

Hilman juga menilai siswa yang menghadapi persoalan dalam pergaulan maupun lingkungan sosial perlu mendapatkan ruang untuk memperoleh pendampingan.

Menurutnya, setiap anak memiliki proses tumbuh dan belajar yang berbeda. Kesalahan yang dilakukan seorang siswa tidak semestinya selalu dipandang sebagai akhir, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan berkembang.

“Pendidikan ini mengejar itu tanpa mengedepankan kualitas moral,” katanya.

Pendidikan Moral Dinilai Penting

Hilman mengatakan penguatan karakter semakin penting di tengah perubahan lingkungan sosial yang dihadapi anak-anak.

Menurutnya, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian yang dibangun di sekolah perlu diperkuat oleh keluarga. Dengan bekal tersebut, anak diharapkan mampu menghadapi pengaruh lingkungan di luar sekolah dan mengambil keputusan secara lebih bijak.

“Kenapa nyawa menjadi murah di jalan? Karena proses pendidikan karakter moralnya tidak terbangun di sekolah. Tidak ada disiplin yang benar,” tambahnya.

Karena itu, Hilman mendorong adanya keseimbangan antara pencapaian akademik dan pembentukan karakter.

Ia menegaskan pendidikan karakter tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah dan guru. Orang tua, masyarakat, serta pemerintah juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak.

Belajar dari Program Daerah Lain

Hilman turut mencontohkan pendekatan pendidikan karakter yang pernah diterapkan di Purwakarta pada era kepemimpinan Dedi Mulyadi.

Menurutnya, kebijakan dan program yang pernah diterapkan di daerah lain dapat menjadi bahan pembelajaran untuk kemudian disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di Jawa Barat.

“Kenapa enggak bisa di Jawa Barat untuk melakukan itu?” katanya.

Hilman menilai persoalan kelompok jalanan yang melibatkan pelajar tidak cukup diselesaikan melalui patroli dan penindakan. Upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan pendidikan, pembinaan, dan perhatian terhadap kehidupan anak.

Sekolah, guru, dan orang tua juga dinilai perlu hadir bukan hanya ketika anak melakukan kesalahan, tetapi sejak awal sebagai tempat bertanya, bercerita, sekaligus mendapatkan arahan.

Pada akhirnya, menurut Hilman, pendidikan bukan sekadar bagaimana seorang anak memperoleh nilai akademik yang baik atau menyelesaikan pendidikan formal.

Pendidikan juga berkaitan dengan proses membentuk anak menjadi pribadi yang mampu menghargai sesama, memahami tanggung jawab, menjaga diri, dan memilih lingkungan pergaulan yang sehat.

Dengan penguatan pendidikan karakter serta pendampingan yang dilakukan bersama-sama, sekolah diharapkan tidak hanya melahirkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kedisiplinan, kepedulian, akhlak yang baik, dan kesiapan menghadapi masa depan.