Oleh: Sony Fitrah Perizal, Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Jawa Barat
TIGA tahun lagi. Masih lama.
Tapi mesin sudah panas.
Anda sudah tahu: 2029 adalah pertaruhan besar. Di permukaan, air tampak tenang. Kabinet berjalan. Program dieksekusi. Tapi di lorong-lorong Senayan?
Pertarungan sudah dimulai. Bukan pertarungan berdarah. Ini catur tingkat tinggi.
Lihatlah kubu pemerintah. Solid. Sangat solid.
Di pucuk pimpinan ada Prabowo Subianto. Sang pemegang hak veto. Penentu arah mata angin. Tapi siapa yang berkeringat di lapangan?
Sufmi Dasco Ahmad.
Anda tahu gaya Dasco. Tenang. Lincah. Lobi tingkat dewanya jalan terus. Semua fraksi bisa ia ajak bicara. Kalau ada RUU mentok, Dasco yang turun tangan. Selesai.
Lalu ada Golkar. Di bawah Bahlil Lahadalia. Beringin ini mesin teknokratik tulen. Mengamankan pengusaha. Mengamankan program ekonomi pemerintah.
Bagaimana dengan Demokrat dan PAN? AHY dan Zulkifli Hasan punya tugas khusus. Menjaga suara anak muda dan ceruk Islam tradisional. Rumusnya sederhana: kabinet sukses, mereka otomatis panen elektoral.
Lantas, bagaimana dengan yang di luar pagar?
PDI Perjuangan memilih jalan sunyi. Tapi terhormat. Oposisi kultural.
Titahnya jelas. Dari Teuku Umar. Megawati Soekarnoputri.
Di Senayan, Puan Maharani memainkan peran cantik. Sebagai Ketua DPR, ia menjaga keseimbangan. Kritis? Iya. Tapi pantang deadlock. Puan tahu betul cara merawat marwah parlemen tanpa harus membakar rumahnya sendiri.
Kalau butuh pukulan keras? Hasto Kristiyanto yang maju. Ujung tombaknya di situ. Tajam. Frontal. Tanpa tedeng aling-aling.
Lalu ada yang main dua kaki? Bukan dua kaki. Lebih tepatnya: lentur.
NasDem. Surya Paloh memang piawai. Di kabinet mereka kawan. Di DPR, fraksinya bisa tiba-tiba sangat kritis. Khususnya soal keadilan dan hukum. Cerdik. Pemilih yang tidak puas dengan pemerintah tetap punya tempat bernaung.
PKS beda lagi. Ahmad Syaikhu dan kawan-kawan konsisten. Begitu urusan pajak naik, atau subsidi dicabut, PKS yang teriak paling kencang. Populis? Tentu. Tapi panggung itu memang harus ada yang mengisi. Kalau tidak, demokrasi kita sunyi senyap.
Pertanyaannya sekarang: siapa yang benar-benar bekerja untuk negara?
Dan siapa yang sekadar curi start untuk 2029?
Waktu yang akan menjawab. Dan rakyat, tentu saja, yang jadi wasitnya.




